M. Alfan Alfian

Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute

Pertemuan di Alam Barzah

Kamis, 28/12/2017 | 12:44

“Setiap orang besar tak pernah membicarakan konsep kehidupan dirinya sendiri.”
—A. A. Navis

 
KOLOM saya pertama kali di ‪rilis.id‬ (17/10/2017), “Mengalirlah di Sungai Buku”, meninggalkan catatan, “Pemimpin, pejuang, orang-orang besar, hidup terikat pada masa dan tempat. Hanya imajinasi cerpenis A.A. Navis atau wawancara imajiner Christianto Wibisono-lah segala kemungkinan muncul. A.A. Navis pernah mempertemukan tokoh-tokoh besar dunia dan lantas mereka berkonferensi di alam barzah membahas masalah-masalah perdamaian. Sedang Christianto Wibisono pernah mengembangkan kolom Wawancara Imajiner dengan Bung Karno."

Kolom ini mengajak Anda membaca cerpen Ali Akbar Navis tersebut. Cerpen itu berjudul "Sebelum Pertemuan Dimulai" (1990). Dibandingkan dengan cerpennya pada masa muda, seperti "Kisah Seorang Hero" (1955) atau yang paling terkenal "Robohnya Surau Kami" (1956), cerpen yang kita perbincangkan ini cukup baru. Dia juga pernah menulis cerpen kontroversial "Man Rabuka" (1957). Navis lahir 1924, wafat 2003.

Cerpen-cerpen karya sastrawan legendaris Sumatera Barat ini dapat kita temukan lengkap di buku Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (Kompas, 2005).

Dalam cerpen "Sebelum Pertemuan Dimulai",  tak semua tokoh dikenal baik semasa di dunia. Hitler misalnya, tokoh yang dikenal buruk. Lalu apa saja yang mereka perbincangkan? Di tangan A.A. Navis, kisahnya mengalir dalam percakapan.

Ia diawali dengan rangkaian kalimat, “Di alam barzah, tempat penantian dosa dan pahala ditimbang, para tokoh dunia sering bersua-sua dan berbincang-bincang tentang masa lalu yang mereka alami di dunia, atau tentang konsep kehidupan yang baik dan sempurna bagi kehidupan anak cucu mereka yang masih tinggal di dunia. Tetapi tentang masa depan mereka sendiri, tak pernah mereka bicarakan. Tentu saja demikian, setiap orang besar tak pernah membicarakan konsep kehidupan dirinya sendiri.”

Di alam barzah, semua serba-egaliter. Tidak ada kultus. Semua orang bisa mengundang yang lain untuk diskusi, kendati yang datang tidak selalu banyak. Misalnya, ketika Al Capone dan Jenderal Tojo mengundang, yang datang sangat sedikit. Para anak buah Al Capone tak merasa perlu lagi berkumpul, karena tak ada yang bisa dirampoki lagi. Sementara Jenderal Tojo masih dianggap chauvinis, kendati tema diskusinya soal Hiroshima dan Nagasaki.

Dikisahkan, kali ini Mahatma Gandhi “memprakarsai pertemuan”, maka orang-orang “duduk melingkarinya”. Yang datang banyak, bahkan “terlalu banyak”. Bahkan Houdini, Picasso, Marilyn Monroe pun ikut nimbrung. Ada juga Stalin, John Lennon, Weizmann, dan sebagainya. 

Gandhi terheran-heran, tetapi memang topiknya sedang aktual, “damai di dunia damai”. Sekretaris pertemuan Chairil Anwar. Gandhi membelanya dari protes berbagai pihak, mengapa yang ditunjuk Chairil, bukan Tan Malaka misalnya.

Cerpen ini justru mengeksplorasi hal-hal yang berkembang sebelum diskusi dimulai. Jadi, tidak merekam diskusinya seperti apa, hasilnya bagaimana. Tetapi lebih merupakan omongan-omongan sepintas lalu para tokoh. 

Adakalanya Navis tidak menyebut nama jelas siapa yang bicara, tetapi sekadar menunjuk ciri orang: “yang berkumis tebal membelintang”, yang “berkumis sebesar hidungnya”. Mereka mengingatkan pada sosok Stalin dan Hitler.

Kendati demikian, tak berubah sikap mereka ketika sudah di alam barzah. Yang ada adalah pembenaran-pembenaran atas apa yang mereka lakukan: masing-masing merasa apa-apa yang dilakukannya sudah benar. Banyak yang masih bicara berapi-api. Hiruk-pikuk pun timbul. 

Semua pada angkat bicara dari sudut pandang masing-masing. Pun John Lennon, yang tak sempat berhenti berkhayal tentang perdamaian.

“Saudara-saudara, jangan lupa, kita ini di alam barzah,” Gandhi mengingatkan.

Cerpen ini diakhiri dengan usulan dari sosok yang, entah dengan cara bagaimana, telah tersembul saja di hadapan Gandhi.

“Mas Sugandhi, aku ingin membantu. Begini. Sebaiknya dibentuk saja satu komisi atau panitia ad hoc untuk membicarakan rencana pertemuan ini dengan lebih matang. Supaya pertemuan ini bisa terarah. Tidak kacau-balau seperti yang biasa terjadi di negara liberal, yang sampai ke alam barzah pun masih berjangkit ....”

Diusulkan pula Gandhi dan Chairil sebagai anggota ex-officio, dan agar Gandhi menyiapkan pidato pengarahan, agar kepemimpinan Gandhi tambah mantap. Tentu Gandhi mengomentari ringan, bahwa namanya bukan Sugandhi tapi Gandhi saja. 

Ketika tamunya itu pergi, Gandhi hendak menanyakan ke Chairil, siapa dia. Tapi Chairil sudah tak ada di tempatnya. Marilyn pun tak jelas. Ini fatal, karena “tanpa sekretaris, pertemuan tidak mungkin dapat dimulai”. 

Sampai di sini cerpen selesai.

Tentu ia menyisakan pertanyaan: siapa tamu asing yang memanggil namanya Sugandhi itu? Oh, seandainya Gandhi tahu ada tokoh Jawa bernama Suharto.