logo rilis
Pertahankan Kesegaran Sayuran, Balitbangtan Perkenalkan Inovasi Ini...
Kontributor
Elvi R
11 Mei 2018, 13:34 WIB
Pertahankan Kesegaran Sayuran, Balitbangtan Perkenalkan Inovasi Ini...
Brokoli. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Sayuran daun adalah salah satu produk pertanian yang umur simpannya sangat cepat. Kondisi penyimpanan yang kurang tepat akan mempercepat proses kerusakan tersebut.  Konsumen umumnya hanya mau makan sayuran daun dalam bentuk segar dan kurang suka sayuran dalam bentuk beku.

Salah satu jenis sayuran yang  memiliki nutrisi dan vitamin yang bagus bagi kesehatan yaitu Brokoli. Selain kaya akan nutrisi, brokoli juga mampu mencegah timbulnya penyakit-penyakit degeneratif, seperti kanker, stroke, dan penuaan dini. Umumnya bagian brokoli yang dikonsumsi adalah bagian daun bunganya yang berwarna hijau dalam bentuk jus dan salad, atau dengan direbus/dikukus/ditumis setengah matang. Hal ini dilakukan agar nutrisinya tidak hilang selama proses pemasakan.

Sayangnya brokoli merupakan sayuran yang sangat mudah rusak, hanya dalam 12 hingga 24 jam saja apabila penanganannya tidak bagus, warna brokoli akan berubah menjadi kekuningan dan terkadang disertai timbulnya kebusukan dan menimbulkan aroma yang kurang sedap.

Sayuran lain yang juga banyak disukai konsumen adalah selada yang harus dikonsumsi dalam kondisi masih renyah saat digigit. Selada umumnya dikonsumsi segar tidak dimasak untuk bahan salad atau campuran sandwich sehingga penyajiannya harus benar-benar diperhatikan, agar tidak merusak cita rasa makanan yang dihasilkan.

Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian melalui kegiatan penelitiannya pada 2017 ini dan memperkenalkan teknologi penanganan segar sayuran untuk brokoli yang dapat bertahan hingga 1 minggu penyimpanan. Selada yang mampu bertahan hingga 2 minggu. Menurut ketua tim pengembangan teknologi Modified Atmosphere Storage (MAS) Dondy, untuk memperpanjang kesegaran sayuran, kondisi ruang penyimpanan harus diatur pada suhu dan kelembaban optimal. Penyimpanan pada suhu dingin harus diimbangi dengan kelembaban tinggi, agar air permukaan yang ada pada sayuran daun tidak menguap dan menyebabkan sauran menjadio layu dan kering.  

Anggota tim lainnya, Setyadjit menjelaskan, pengaturan suhu rendah dan kelembaban tinggi dapat menekan kecepatan reaksi katabolisme sayuran hijau tersebut, sehingga selain kesegarannya, kandungan klorofilnya juga masih relatif utuh, sehingga klorofil sebagai vitamin alam dapat memenuhi harapan konsumen sayuran. Sayuran hijau sesudah panen selalu melewati reaksi katabolisme yakni reaksi degradasi nutrisi dalam sayuran menjadi terpecah menjadi komponen yang lebih kecil yang disebut senescent dengan gejala warna kuning disertai bau tidak seda, akibat degradasi protein yang mengandung sulfur pada sayuran. 

Prinsip kerja Modified Atmosphere Storage adalah triple action. Yang pertama suhu rendah akan menurunkan kecepatan reaksi biokimia dalam sayuran sesuai prinsip Q10. Yang kedua akan terjadi peningkatan jumlah karbon dioksida dan pengurangan jumlah oksigen dalam sayuran. Karbon dioksida tinggi serta oksigen rendah ikut menurunkan kecepatan reaksi biokimia. Yang ketiga adalah pengaturan kelembaban diatas 95 persen akan mempertahankan kesetimbangan untuk sayuran tidak kehilangan air akibat transpirasi.

Saat ini, teknologi MAS ini sedang coba disosialisasikan terutama bagi pedagang sayur di pasar induk atau pasar lainnya.  Diharapkan dengan adanya teknologi ini, kehilangan hasil (losses) pada sayuran dapat ditekan sehingga dapat meningkatkan keuntungan petani ataupun pedagang.  Selain itu konsumen juga diuntngkan dengan kualitas sayuran yang lebih baik, tanpa harus kehilangan kandungan gizi dan nutrisinya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)