logo rilis
Perpres 43/2018 Terbit, Akses BBM Nelayan Tetap Sulit
Kontributor
Fatah H Sidik
04 Juni 2018, 21:34 WIB
Perpres 43/2018 Terbit, Akses BBM Nelayan Tetap Sulit
Bahan bakar minyak (BBM). ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— ?Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menilai, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 43 Tahun 2018 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak (BBM) tak menyelesaikan masalah nelayan. Sebab, sampai kini masih kesulitan mendapatkan solar sesuai harga acuan.

"Sejumlah fakta kami temukan di kampung-kampung nelayan, bahwa untuk kebutuhan operasional melaut, nelayan harus membeli dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga yang sudah diatur oleh pemerintah," ujar Ketua Harian DPP KNTI, Marthin Hadiwinata, melalui siaran pers yang diterima rilis.id di Jakarta, Senin (4/6/2018).

"Jika pun dengan harga yang sesuai harga eceran nasional, BBM solar dan BBM premium tersebut masih langka dan sulit didapat," imbuh dia.

Pembiaran tersebut, menurut Marthin, menyebabkan ongkos melaut dan marjin keuntungan yang didapat mengecil. Akhirnya, menyebabkan keterpurukan perekonomian nelayan.

"Setiap harinya ada ongkos BBM solar maupun BBM premium yang biasa digunakan setiap nelayan lebih-kurang lebih Rp25 ribu sampai Rp30 ribu, jika nelayan membeli BBM dengan harga yang normal," jelasnya.

Karenanya, KNTI mendesak pemerintah memperbaiki tata niaga solar dan premium serta mengoptimalikan pendistribusiannya. Misalnya, mengoptimalkan fungsi organisasi serta koperasi nelayan. "Sebagai pengelola distribus BBM di kampung-kampung nelayan," pungkas Marthin.

Berikut harga solar dan premium di kampung-kampung nelayang yang disurvei KNTI:
1. Lombok Timur, NTB: premium Rp8.000 per liter.
2. Teluk Maumere, Lembor Selatan-Labuhan Bajo, Lembata, NTT: premium Rp10 ribu per liter dan solar Rp6.000 per liter.
3. Kepulauan Sepanjang-Sapeken, Sumenep, Jawa Timur: premium Rp10 ribu per liter dan solar Rp9.000 per liter.
4. Kampung nelayan Nambangan, Cumpat, Kejawan, Tambak Wedi, Sukolilo, Kenjeran, dan sekitarnya di Surabaya: premium Rp9.000 per liter dan solar Rp8.000 per liter.
5. Padang Tikar, Sepuk Laut, dan lokasi lainnya di Kalbar: premium Rp9.000-10 ribu per liter dan solar Rp8.000 per liter.
6. Tanjung Balai Asahan hingga Langkat, Sumut: premium Rp6.700-8.500 per liter dan solar Rp7.000 per liter.


komentar (0)