logo rilis

Perlukah Menulis di Media Mainstream?
kontributor kontributor
Yayat R Cipasang
29 November 2018, 16:04 WIB
Penulis seorang kerani dan penyelia di RILIS.ID
Perlukah Menulis di Media Mainstream?
ILUSTRASI: Hafiz

JUDUL di atas sebenarnya pertanyaan retoris. Tak perlu dijawab secara verbal karena jawabannya pasti perlu. Tetapi tidak mesti atawa tidak mutlak.

Saya pun sampai saat ini masih terus ditolak oleh Harian Kompas dengan alasan yang dijawab sama. Karena memang yang menjawab mesin atau mungkin robot. "...kami menilai opini tersebut tidak dapat dimuat di harian Kompas. Kami kesulitan mencari tempat untuk opini tersebut."

Surat penolakan yang sebelumnya dalam bentuk surat berbalut amplop cokelat kini berganti menjadi pos elektronik (pos-el), sebagian masih saya koleksi.

Saya masih belum menyerah dan suatu saat mungkin saja tulisan saya berupa esai dimuat. Artinya saya tidak putus asa walaupun pekerjaan saya tidak menuntut agar tulisan dimuat di sebuah media bergengsi dengan alasan honor yang besar atau lantaran untuk prestasi akademik bagi seorang dosen di perguruan tinggi.

Menulis di media bergengsi, media besar dan media berpengaruh bagi saya hanya sebuah pencapaian, kepuasaan pribadi dan juga mungkin ada lembaga yang tertarik dengan tulisan dan pemikiran saya sehingga mereka menawari sebuah beasiswa.

Bagi saya dikenal oleh warga dusun tempat kelahiran saya saja sudah bangga. Ceritanya bermula ketika saya tengah rajin-rajinnya menulis opini di Harian Pikiran Rakyat Bandung antara 1999 hingga 2010. Saat itu saya dapat kabar dari Ayah di kampung bahwa warga di pegunungan yang dingin itu heboh.

Apa pasal? Di sebuah warung kelontong katanya nama saya diperbincangkan. Mereka heboh karena di koran robek yang akan digunakan untuk membungkus ikan asin, menemukan nama Yayat R Cipasang.

Mereka pertama kali bukan tertarik pada nama Yayat melainkan senang lantaran ada kata Cipasang yang menjadi nama dusun mereka. Baru setelah itu mereka mengusut nama Yayat R Cipasang.

Sampai di sini mereka harus melakukan verifikasi. Nama Yayat di kampung saya minimal ada lima varian, nir nama Yayat R Cipasang. Mereka pikir pasti salah satunya menggunakan nama kampung.

Mereka kemudian dari nama Yayat Ruhiat, Yayat Ruhayat, Yayat Achdiat, Yayat Supriatna dan Yayat Munajat mengerucutkan nama Yayat menjadi dua. Karena nama tengahnya ada "R" hanya Yayat Ruhiat dan Yayat Ruhayat yang masuk hitungan.

Dari sini gampang ditelisik dan sampailah kepada keputusan mereka bahwa yang menulis opini di koran bebanggaan warga Jawa Barat sampai ke pelosok desa itu adalah Yayat R Cipasang.

Bagi saya dikenal oleh masyarakat sekampung saja sudah bukan main bangganya. Apalagi dikenal oleh publik seantero Indonesia.

Tapi di era medsos seperti sekarang ini dan ketika pembaca koran merosot tajam saya sudah lama fokus menulis esai dan juga feature di media daring. Hasilnya, pembaca dan esai kita terukur: berapa kali dibaca, berapa lama berita dibaca dan berapa kali tulisan itu dibagikan.

Tanpa bisa kita kendalikan, tulisan kita ketika sudah tersiar di media daring sudah menjadi milik publik. Mereka begitu bebas membagikan tautannya kemana saja sesuka mereka. Sangat dahsyat. Benar-benar sesuai dengan adagium: bila karya sudah dipublikasikan pengarangnya telah mati.

Saya sangat yakin tulisan atau opini jurnalis senior Asyari Usman dan Hersubeno Arief yang bertebaran dan diviralkan lewat medsos lebih mangkus dan sangkil dibandingkan dengan artikel lain yang dimuat di media arus utama.

Tulisan Asyari dan Hersubeno yang keras dan bernas sudah masuk syarat sebagai sebuah opini. Namun, tulisan mereka ini tidak mungkin dapat dimuat di media arus utama karena pasti bertentangan dengan ideologi dan pilihan politik newsroom media. Apalagi media arus utama semuanya sudah berpihak kepada penguasa atau petahana Pilpres 2019. 

Sebaliknya, Asyari Usman yang mantan wartawan BBC dan Hersubeno yang menulis lewat blog pribadinya berpihak kepada capres Prabowo Subianto.

Ini artinya, menulis esai di era gempuran media sosial peluangnya sangat terbuka. Menulis tidak hanya di media arus utama, tetapi bisa juga lewat medium lain termasuk grup whatapps sekalipun. Soal dampaknya bisa diperdebatkan. Bisa jadi malah tulisan yang disebarkan lewat media sosial lebih dahsyat dibandingkan lewat media arus utama yang oplahnya kian menurun.

Buktinya, kini sangat jarang ditemukan di terminal atau di commuterline orang membaca koran. Mereka lebih banyak memelototi gawainya dan lebih praktis membaca tulisan di media daring dan saat itu juga langsung mendistribusikannya kepada kelompok buzzer atau grup WA.

Mungkin salah satu tulisan yang diviralkan itu adalah karya saya. Tulisan yang suatu saat akan dikumpulkan menjadi sebuah buku. Juga diterbitkan sendiri dan dijual sendiri. Karena hukum penerbitan pun tak jauh berbeda dengan kebijakan newsroom sebuah media. Suka-suka mereka para editor dan penyelia naskah dengan tafsir komersialnya.

Masihkah Anda berambisi untuk menulis esai di media arus utama? Kalaupun sampai saat ini tulisan Anda ditolak oleh redaktur opini, pilihan bijak seperti ditawarkan Meta Wagner dalam bukunya What's Your Creative Type? bisa menjadi penghiburan.

"Jika Anda menerima surat/surel penolakan lakukanlah hal berikut: bakar, bingkai, hapus, robek, atau simpan sehingga kelak Anda dapat mengembalikan ke si pengirim dengan sebuah catatan yang mengatakan, 'Apa kubilang?'"

Semoga.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)