logo rilis

Peringati Hari Santri, Prabowo-Sandiaga Akan Napak Tilas Resolusi Jihad Hasyim Asy'ari
Kontributor
Budi Prasetyo
19 Oktober 2018, 12:40 WIB
Peringati Hari Santri, Prabowo-Sandiaga Akan Napak Tilas Resolusi Jihad Hasyim Asy'ari
Capres Prabowo Subianto di Jakarta. FOTO: RILIS.ID

RILIS.ID, Surabaya— Ketua Harian Badan Pemenangan Provinsi Prabowo-Sandiaga Jawa Timur, Anwar Sadad, mengatakan  Prabowo dan Sandiaga akan memulai napak tilas perjalanan di rute yang dilalui Resolusi Jihad bertepatan dengan hari santri 22 Oktober mendatang.

Prabowo-Sandi akan berangkat dari Ponpes Tebuireng Jombang dan berakhir di Tugu Pahlawan Surabaya.

"Pada hari itu Pak Prabowo dan Mas Sandi insya Allah akan ke Jawa Timur melakukan napak tilas ke Jombang, Mojokerto dan berakhir di Tugu Pahlawan Surabaya," ungkap Anwar, Kamis (18/10/2018).

Ditambahkannya, kegiatan Resolusi Jihad yang digagas oleh Capres nomer urut 02 ini dimulai dari Lapangan di Komplek Ponpes Tebu Ireng, Jombang dengan menggelar Apel Akbar pada 22 Oktober 2018.

Giat ini mirip dengan sejarah Resolusi Jihad yang digagas KH Hasyim Asy'ari 73 tahun yang lalu. Di mana setelah ada seruan Jihad dari PBNU, masyarakat dari Jombang, terutama santri dan ulama bahu membahu mengusir penjajah kolonial Inggris dan Jepang di Surabaya.

"Tepat pada 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad membakar semangat seluruh lapisan rakyat hingga pemimpin di Jawa Timur terutama di Surabaya, sehingga dengan tegas mereka berani menolak kehadiran Sekutu yang sudah mendapat ijin dari pemerintah pusat di Jakarta," ceritanya.

Prabowo-Sandi, kata Sadad, ingin merasakan langsung heroisme perjuangan para ulama NU tersebut dengan melakukan hal yang sama. Dalam bentuk napak tilas perjuangan dari Jombang ke Surabaya.

"Insya Allah Gus Sholah, sebagai cucu Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari akan melepas rombongan Pak Prabowo dan Mas Sandiaga untuk napak tilas Resolusi Jihad menuju Surabaya," ungkapnya. 

Ditambahkan Politisi Gerindra ini, dalam apel akbar di Tebu Ireng Jombang, juga akan diikuti ribuan santri.

"Kami ingin mengingat kembali, perjuangan ulama dan santri jaman dulu, agar terus diingat menjadi motivasi untuk generasi milenial sekarang," tutur Anggota DPRD Jatim yang juga keluarga besar ponpes Sidogiri Pasuruan ini.

Hari Santri Milik Indonesia
Katib 'Aam PBNU, Yahya Cholil Staquf, mengemukakan Hari Santri Nasional bukan hanya milik Nahdlatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah, melainkan milik Indonesia.

"Santri bukan hanya 'trademark' NU atau Muhammadiyah saja, tetapi santri selalu mewarnai kehidupan masyarakat Nusantara," kata Yahya Cholil Staquf seperti dilansir Antara di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya di Malang.

Universitas Brawijaya (UB) Malang memeringati Hari Santri Nasional ketiga dengan menyelenggarakan Seminar Kebangsaan bertema "Peran Santri dalam Memperkokoh Persatuan Bangsa".

Acara ini menghadirkan Dewan Pertimbangan Presiden RI (Wantimpres) Yahya Cholil Staquf, Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah, dan intelektual dari Muhammadiyah Dr Zuly Qodir.

Yahya Staquf menegaskan santri itu bukan milik NU saja, tapi milik semua kalangan, golongan yang cinta Tanah Air dan keindonesiaan. Memang selama ini pondok pesantren banyak dikelola NU, tapi bukan berarti santrinya hanya milik NU.

Menurut Yahya Staquf, tradisi santri ini sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Santri adalah tradisi intelektual Nusantara yang tumbuh selama berabad-abad sejak zaman pra-Islam.

Sebelum ada pendidikan model barat yang diadopsi saat ini, pendidikan Nusantara terjadi di padepokan-padepokan dengan resi-resi. Para resi tinggal dengan murid-muridnya, dan sebelumnya bernama cantrik. "Mereka inilah santri," ujarnya.

Oleh karena itu, peringatan Hari Santri Nasional menjadi bukti dukungan keberadaan pondok pesantren melalui regulasi dan kebijakan.

"Tujuannya, menghidupkan kembali tradisi intelektual Nusantara, melalui pondok pesantren bisa semakin meningkat kapasitasnya," tuturnya.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)