logo rilis

Perihal Rindu, Kenangan dan Kehilangan
Kontributor
RILIS.ID
22 Mei 2018, 15:08 WIB
Perihal Rindu, Kenangan dan Kehilangan
ILUSTRASI: Istimewa

‘di sini, rantau yang beringas
kusiasati seperti mengunyah bakwan panas’

(Di Hadapan Secangkir Kopi—Miryam)

ASTRAJINGGA Asmarubrata, atau yang dikenal dengan nama Edoy, ialah seorang penyair petualang yang singgah dari alamat ke alamat lainnya. Sejak remaja ia merantau ke Jakarta. Membiarkan dirinya, tubuhnya, berjubel, berdesakan di KRL, berimpit di bus kota, bermacetan di jalanan, lalu menepi ke pinggiran warung kopi. 

Saya mengenalnya melalui beberapa pertemuan sastra di Jakarta. Ia menghidupkan malam puisi Jakarta. Kota yang dihuni banyak kaum urban yang terus berkejaran dengan waktu. Kita tahu, waktu berjalan terus, tak ada jeda. Kita berjalan atau berlari di lorong batas waktu yang tersedia, tak lebih dan tak kurang. Kita tak punya kendali atas waktu yang begitu laju berlalu, kecuali memanfaatkan dengan penuh ketergesaan. Edoy memilih jalan puisi untuk membangun monumen kenangan.  Edoy menghadirkan makna dengan mencatat sehimpun peristiwa yang melulu cepat berlalu.  

Sebanyak 93 puisi yang tersaji dalam Miryam dan bayangan dari yang berlalu menyeret kita pada kebahagiaan, rindu, cinta, kehilangan dan keputusasaan. Ia cemas dengan segala yang lalu pergi. Menjadi kaum urban, pergi meninggalkan kampung halaman, tentulah menjadi sebab ia menulis beberapa puisi perihal rindu, kenangan dan kehilangan.

mungkin sudah saatnya saya pulang:
pulas dan tenang. Merawat sawah warisan
Ayah, sebelum dijual ke tuan tanah
Oleh saudara tertua untuk ongkos ibu ke Mekkah

Kiranya beliau juga sudah lama menunggu:
Membayangkan saya datang
(Sudah Saatnya: 16)

Puisi ‘Sudah Saatnya’ menyeret kita pada kepasrahan penyair dari segala petualangannya. Ia harus pulang, menemui segala kemungkinan. Pulang tentu saja bukan perihal perjalanan dari Jakarta ke Cirebon. Tapi lebih dari itu. Makna pulang bagi si anak rantau artinya kembali pada kenangan-kenangan silam. Menjumpai lagi kerinduan yang lama tertanam. Sekaligus merelakan segala kehilangan. 

Apa itu kenangan? Buku antologi puisi Miryam kerap membawa kita pada banyak nama, alamat, juga persinggahan dari sederet peristiwa. Sebagai anak rantau yang sejak lama meninggalkan kampung halaman, saya mendengar suara-suara rindu sekaligus kehilangan. Puisi ‘Situ Patok’, ‘Bukit Kapur Palimanan’, ‘Menjelang Senja Kejawanan’, menjadi suara nurani penyair dimana melihat kota kelahirannya kini sekadar dongeng purba.

‘bukit-bukit kapur adalah arwah leluhur
menyimpan takzim dan takjub
siapa pun yang memandangnya
tetapi jelujur mesin-mesin tambang itu
tersungkur untuk mengeruk dan 
mengangkutnya ke pabrik-pabrik
arwah leluhur pun dicetak menjadi keramik

(Bukit Kapur Palimanan)


Ada kenangan semasa kecil perihal kota kelahirannya yang kini tergerus oleh zaman. Perubahan yang kian cepat membawa perenungan pada penyair. Kemana dongeng-domngeng purba semasa kanaknya kini pergi?  Selain kenangan pada kota kelahirannya, Edoy juga menulis perihal kenangan yang berjejal dari tempat-tempat yang baru ia singgahi. 

Seperti Kenangan di Kemang : 

Di sebuah kafe di Kemang, suatu malam:
Kupesan kenangan yang pernah kita nikmati
Dalam alunan Jazz kuhayati apla sosokmu
Turut bernyanyi walau liriknya tak aku mengerti

Denting gelas dan wajah-wajah cemas
Pengunjung lain antara mabuk dan terharu
Bikin kita yakin bahwa hidup yang lekas ini
Terasa lambat jika dilewati dengan bersedih

Ciuman-ciuman kita yang dulu malu-malu
Membangun masygul dari desah dan lenguhmu
Pertengkaran kecil setelahnya menunggu kita
Berangkulan menyusuri gemerlap kota

....

Selain suara-suara rindu, saya juga menemukan suara-suara harapan, kecemasan, dan pemberontakan. Puisi ‘Jalan Penyair’, ‘Soneta: Jendela dan Penyair Kita’, ‘Song of Solitude’, ‘Song of Solitude 2’, ‘Tulisan pada Nisan Sebuah Jejak’ adalah suara-suara harapan sekaligus kecemasan penyair. Ia barangkali sadar, betapa ironi penyair yang memeras kata-kata sebagai perekam peristiwa. Ia menghibur dirinya, benarkah masih pantas kita menulis puisi di tengah masyarakat tidak membutuhkannya?

‘pergilah sajakku, pergilah
biarkan sepi itu sendiri
menanti gairahku mendingin
seperti angin dini hari’ 

(Tulisan Pada Nisan, Sebuah Jejak)


Si trotoar yang sepi dari hingar bingar
bayangan kita saling mengejar
amsal yang singkat
tentang rintik air mata’ 

(Di Trotorar yang Sepi, Sebuah Jejak)

Saya kemudian sadar, pada segala pengembaraan penyair, ada saatnya kita jengah pada segala yang kita temui. Ini pula yang terkadang membuat kita pesimis dengan puisi-puisi kita sendiri. Ini yang saya temukan dalam suara puisi-puisi Edoy. Ia kerap putus asa dengan dirinya juga puisinya. Dari segala suara pasrah dan lirih itu, diam-diam ia memilih menepi dari ingar bingarnya. Menuju puisi. 

Puisi adalah ruang berbagi sekaligus menepi dari segala peristiwa yang kerap datang dan pergi. Edoy ingin memeluk waktu, sebab ia merasa terus dikejar. Bukankah kita tengah hidup dalam dunia di mana batas tak lagi mengenal tapal. Rangkaian peristiwa yang berlalu-lalang dapat seketika mengejar lalu tertinggal. Edoy mengajari pada kita, bahwa usia kata itu perlu dirayakan. Ini mengingatkan pada kita, hari ini orang-orang sering berada di tengah-tengah peristiwa tapi tak sempat memetik makna dari apa yang terjadi. 

Dari buku puisi Miryam, kita percaya bahwa nafas puisi kerap menjadi mesin pengingat dalam gegap gempita ini. Paling tidak pengingat atas perayaan kenangan kita sendiri. 


*Nissa Rengganis, menulis esai dan puisi, dosen Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Cirebon, Pendiri Komunitas Rumah Kertas, Mengelola Taman Baca Terang Sore. Buku Antologi Puisinya Manuskrip Sepi terpilih sebagai Buku Pilihan Hari Puisi Indonesia 2015.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)