logo rilis

Percepat Penurunan Kemiskinan Bondowoso, Bantuan Bibit Kopi Dilipatgandakan
Kontributor

22 Mei 2018, 23:38 WIB
Percepat Penurunan Kemiskinan Bondowoso, Bantuan Bibit Kopi Dilipatgandakan
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menanam pohon kopi di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Bondowoso, Selasa (22/5/2018). Bibit kopi diberikan sebagai upaya Kementan memberantas kemiskinan melalui Program Bekerja. FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik

RILIS.ID, Bondowoso— Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menarik bantuan 400 bibit batang durian dan memperbanyak bibit batang kopi hingga lima kali lipat ke Bondowoso, Jawa Timur. Hal tersebut untuk mempercepat visi Republik Kopi.

"Kasih 500 ribu, kasih lima kali lipat. Langsung berikan, enggak usah pakai tender-tender," ujarnya sela peluncuran Program Berantas Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Bondowoso, Selasa (22/5/2018).

Menteri Amran mendorong demikian, lantaran agroklimat Bondowoso cocok ditanami kopi. Bahkan, kopi Java Ijen Raung yang dihasilkan telah menembus pasar Eropa.

Jika ditingkatkan dengan penanaman kopi serempak atau sistem kluster, diyakini pembantu Presiden asal Bone itu, mendorong industri untuk masuk. Sehingga, pertumbuhan ekonominya lebih cepat melesat.

Menteri Amran juga mendorong pengolahan pascapanen, seperti pengemasan (packing), dikerjakan industri skala rumah tangga, seperti di Toraja, Sulawesi Selatan. "Sinergi dengan Kementerian Koperasi, Kementerian Sosial, BUMN," tambahnya.

Dirinya berkeyakinan, bila bantuan Kementan dimanfaatkan semaksimal mungkin, industri kopi di Bondowoso dapat terbangun dalam tempo dua tahun.

"Ditambah dua kali lipat ayam sebagai solusi jangka pendek, kandang gratis, pakan gratis, pendapatan naik Rp2,2 juta. Enam bulan kemudian, pendapatan jadi Rp3 juta. Artinya, sudah tinggalkan kemiskinan," lanjut Menteri Amran.

Peraih gelar doktor dari Universitas Hasanuddin menambahkan, pendapatan dari budi daya kopi mencapai Rp220 juta per hektare per tahun atau setara Rp20 juta saban bulan. Lantaran rata-rata luas kepemilikan lahan petani Bondowoso cuma 0,3 hekrare, tandasnya, "Berarti Rp6 juta."

Pada kesempatan sama, Bupati Bondowoso, Amin Said Husni, menyampaikan apresiasinya kepada Kementan atas bantuan yang diberikan. "Program diharapkan dapatenekan angka kemiskinan nasional sekaligus Bondowoso," ucapnya.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menambahkan, hampir 60 persen masyarakat Bondowoso bekerja sebagai petani. Tapi, rata-rata kepemilikan lahannya 0,3 hektare.

Meski begitu, dua produk unggulan Bondowoso berbasis pertanian. Kopi dan beras organik. Untuk pengembangan kopi, bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Perhutani, perbankan, dan asosiasi.

Hasilnya, kopi arabika java ijen raung yang dikembangkan mendapatkan Sertifikat Perlindungan Indikasi Geografis dari Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kemenkumham. Bahkan, dari 1.300 hektare lahan Perhutani yang digarap petani produksinya mencapai 2.900 ton pada 2017.

"Sepertiga (produksi) di ekspor ke Eropa, dua pertiga dalam negeri," terangnya. Hal ini mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso menyebut dirinya sebagai Republik Kopi.

Prestasi mentereng juga disabet beras organik Bondowoso. Sebab, 135 hektare lahan yang digarap memperoleh sertifikat nasional. "Dan yang terbaru, dapat sertifikat internasional 29 hektare," tuntas Amin.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)