logo rilis

Perang Suara, Tak Tercampur Pikiran Keji
kontributor kontributor
Dadang Rhs
27 Januari 2018, 19:14 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
Perang Suara, Tak Tercampur Pikiran Keji

"APAKAH sebabnya ini soerat kabar kami namaken 'Hidoep', tidak lain soepaja jang merasa 'hidoep' dengen lekas mengoempoelken tekatnja boeat bergerak goena mentjapai 'hidoep' kita sedjati, jang gilang gemilang dan soetji, tidak tercampoer dengen pikiran jang kedji." Marco, lengkapnya Mas Marco Kartodikromo, menuliskan ihwal penerbitan yang dia bikin.

Dunia penerbitan memang jalan hidup yang dipilih oleh Mas Marco. Ia memulai karirnya dengan menjadi jurnalis magang di "Medan Prijaji" yang dipimpin oleh R.M. Tirtoadhisoerjo. Pada tahun 1914, Mas Marco mendirikan Inlandsche Journalistenbond (IJB) di Surakarta. Organisasi ini menerbitkan "Doenia Bergerak". Mas Marco menjadi pemimpin penerbitan pergerakan ini. Akibat memuat empat surat pembaca di "Doenia Bergerak" Mas Marco dikenai persdelicten oleh pemerintah kolonial.

Mas Marco memilih untuk tak mengungkap siapa si pengirim surat pembaca. Ia melindungi hak sumbernya. "Doenia Bergerak" surat kabar yang ia pimpin, dengan ini telah memberi "forum publik untuk kritik dan dukungan warga." Di lain sisi, penerbitan pimpinan Mar Marco ini "berlaku sebagai pemantau kekuasaan." Dua hal ini, adalah yang diisyaratkan dalam "Sembilan Elemen Jurnalisme" yang ditulis oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001). Atas pilihan ini, ia di penjara. Ia tak jera.

Sejak awal, menurut Takashi Shiraishi (1997), memang Mas Marco bermaksud melancarkan "perang suara" melalui tulisan-tulisannya. "Saya berani bilang, selama kalian rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kalian akan terus diinjak-injak dan hanya menjadi seperempat manusia." Ini pernyataan Mas Marco dalam sebuah vergadering.

Penerbitan pers itu pada batas yang disadari seniscayanya hanyalah alat dan siapapun bisa memakainya. Tentu, kemudian "alat" ini mensyaratkan aturan yang disebut etika jurnalistik. Semacam prosedur standar bagi pengguna. Syarat etik inilah yang kelak membuat karya jurnalistik berbeda dengan produk yang mirip-mirip jurnalistik.

Jurnalistik adalah kerja. Jurnalistik ialah juga ruangan yang terbuka. Lalu dengan ini tiap-tiap siapa saja dapat bekerja. Sebagaimana pekerjaan yang lain, jurnalistik memiliki ikatan agar pekerjaan ini menjadi layak.

Reklame, terlebih hari ini, bisa jadi dikerjakan dengan cara yang mirip-mirip Jurnalisme. Tampilan bahkan juga dalam proses, si pembuat melakukan peliputan, mewawancarai satu dua sumber –yang tentu sudah dipilih, menyunting, dan menerbitkannya dalam bentuk koran, portal berita atau yang serupa dengan penerbitan pers. Kita sekarang mengenal istilah infotorial dan pelbagai variannya. Dan, secara etik setiap penerbitan reklame sejenis ini selayaknya menuliskan bahwa produk tersebut adalah: reklame.

Etika. Adab. Kaidah. Inilah soal yang menjadi alas apakah sebuah kerja tulis-menulis itu kelak dinilai sebagai karya jurnalistik atau sekedar mirip-mirip dengan jurnalisme. Kaidah jurnalistik mensyaratkan objektivitas, akurasi, keberimbangan, imparsial, dan adil.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, menyebut ada sembilan elemen atas tugas jurnalisme itu, yaitu, 1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran; 2. Loyalitas pertama jurnalisme kepada warga; 3. Intisari jurnalisme adalah disiplin dalam verifikasi; 4. Para praktisinya harus menjaga independensi terhadap sumber berita; 5. Jurnalisme harus berlaku sebagai pemantau kekuasaan; 6. Jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga; 7. Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting menarik dan relevan; 8. Jurnalisme harus menjaga agar berita komprehensif dan proporsional; 9. Para praktisinya harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.

Mas Marco adalah satu di antara pelopor jurnalisme di negeri ini. Melalui pekerjaannya ia berikhtiar membebaskan dan memerdekakan bangsanya. Merdeka dari kegelapan informasi. Bebas untuk menyampaikan pendapat.

Hari ini, kebebasan itu sudah di tangan. Dalam percakapan di ruang publik "perang suara" adalah hal yang bisa terjadi. Sebagaimana tulisan Mas Marco di atas, bahwa "hidup" yang kita nikmati hari ini hendaknya, tidak tercampur dengan pikiran yang keji. Semoga saja.  




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID