logo rilis

Peran Perempuan di Sektor Pangan, Pertanian dan Kehutanan di ASEAN
Kontributor
Elvi R
24 April 2018, 12:07 WIB
Peran Perempuan di Sektor Pangan, Pertanian dan Kehutanan di ASEAN
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Bali— Sektor pangan, pertanian dan kehutanan adalah sektor ekspor utama di enam dari sepuluh Negara Anggota ASEAN, seperti Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Indonesia, dan Vietnam. Negara-negara ini mendominasi pertanian utama tersebut. Dan keseluruhanya berada pada tahap-tahap perkembangan sosio-ekonomi yang berbeda, namun memiliki kesamaan kendala yang dihadapi oleh perempuan di sektor tersebut. 

Hampir 75 persen perempuan di Kamboja terlibat dalam pertanian, 59 persen perempuan menjadi pekerja pertanian di Myanmar,  48 persen di Viet Nam, 51 persen di Laos, serta lebih dari 30 persen di Indonesia ungkap ASEAN Secretariat.

Sektor industri pertanian dan pengolahan pertanian terus berkembang yang sebagian besar mempekerjakan perempuan, jelasnya lagi. Perempuan juga berpartisipasi dalam rantai nilai tetapi tidak dapat selalu mencapai pasar ekspor.  Selain itu, sektor pangan, pertanian dan kehutanan sangat rentan terhadap perubahan iklim, dan perempuan dan pemuda lebih rentan terhadap perubahan iklim.  Tantangan inilah yang dihadapi termasuk di negara ASEAN.

Petani perempuan menghadapi beberapa tantangan untuk mengakses pasar ekspor di negara Anggota ASEAN. Tingkat kemiskinan pedesaan yang tinggi dan beban kerja perempuan melebihi beban kerja fisik mereka, baik di dalam rumah tangga maupun di kegiatan pertanian.

Meskipun ada keterlibatan perempuan yang signifikan dalam bidang pertanian, kepemilikan tanah dan kepemilikan aset produktif lainnya tetap sebagian besar dimiliki laki-laki. Akses yang buruk ke pasar dan ketergantungan yang berlebihan pada tengkulak membuat sulit bagi perempuan untuk mengakses pasar luar dan menerima harga yang adil untuk produk mereka. Selain itu, kredit untuk tujuan pertanian sulit untuk diakses oleh perempuan karena kurangnya kepemilikan aset dan tingkat pendidikan yang rendah di beberapa Negara Anggota ASEAN. 

"Untuk itulah negara-negara ASEAN perlu  duduk bersama guna memahami dan saling  memperkenalkan kebijakan dan program yang responsif gender di tingkat daerah, mempromosikan dan mengadvokasi kesetaraan gender dalam kebijakan, program, sistem dan struktur pangan, pertanian dan kehutanan," jelas Kepala Bagian Kerjasama Hukum, Organisasi dan Humas, Sekretariat Balitbangtan  Ir. Erlita Adriani, MBA, pada Workshop on Developing ASEAN Approach on Gender Mainstreaming in the Food, Agriculture and Forestry Sectors pada tanggal 23 April 2018 di Bali. Workshop ini diselenggarakan atas kerja sama antara Balitbang Kementerian Pertanian, GIZ (Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) dan ASEAN Secretariat.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah memperkuat dan membangun kapasitas penyusun kebijakan, pekerja lapangan dan petani tentang pendekatan yang tepat untuk mengintegrasikan gender dalam pertanian. "Selain itu, mendorong penelitian yang adil jender mendukung teknologi pertanian cerdas iklim," pungkasnya. 

Sumber: Seta A.R/Balitbang


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)