logo rilis

Penyuluh di Lombok Barat Semangat Kembangkan Padi Hitam
Kontributor
Kurnia Syahdan
15 April 2018, 18:10 WIB
Penyuluh di Lombok Barat Semangat Kembangkan Padi Hitam
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Padi hitam atau beras hitam merupakan salah satu dari jenis beras khusus yang memiliki sifat unggul disebabkan oleh warna dan kandungan gizinya.  

Padi yang menghasilkan beras hitam sebenarnya telah lama dan banyak ditanam di kawasan Asia. 
Ketika jaman dinasti-dinasti di Tiongkok kuno, beras hitam ternyata hanya dikonsumsi oleh kalangan kerajaan sehingga dikenal sebagai beras “terlarang”. 

Setelah selesai periode jaman kuno tersebut, beras hitam mulai dikembangkan ke seluruh kawasan Asia.

Beras hitam saat ini mulai banyak diminati banyak kalangan, karena meningkatnya kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat khususnya dari konsumsi pangan.  

Berbagai penelitian menunjukkan, beras hitam mengandung zat gizi di bagian lapisan luarnya seperti serat, vitamin B1, B3, B6, Vitamin E, mangan, fosfor, zat besi, antioksidan dan antosianin, asam amino dan asam lemak esensial. 

Namun saat ini, pengembangan padi beras hitam masih terbatas dan hanya dipasarkan dalam jumlah tidak banyak. 

Perlahan namun pasti, perkembangan beras khusus ini akan meluas terutama karena alasan kesehatan. 

Padi beras hitam saat ini dikembangkan masih berupa varietas padi lokal. 

Belum diketahui pasti apakah sudah ada yang dilepas di pasaran atau tidak.  

Namun, untuk pendaftaran sebagai  varietas lokal beberapa provinsi di Indonesia telah melakukannya, termasuk Nusa Tenggara Barat.

Ke depan selain pelepasan varietas unggul lokal,  perlu juga dilakukan  pemuliaan untuk menghasilkan VUB beras hitam dengan sifat lebih unggul seperti umur pendek,  produktivitas tinggi dan rasa pulen. 

Peneliti BB Biogen Bogor, Dr Edi Listanto, sempat meninjau demplot padi hitam dan padi putih (biasa) saat melakukan kunjungan ke UPTD Narmada, Lombok Barat.

Selain padi hitam, beberapa varietas unggul  baru (VUB)  biasa tentu saja juga dikembangkan untuk mendukung Upsus Pajale Provinsi Nusa Tenggara Barat  (NTB). 

Menurut salah satu Penyuluh UPTD Narmada, Wayan Sudiarsa , pengembangan padi beras hitam akan terus dilakukan. 

Dari beberapa  kali penanaman, beras hitam yang umurnya memakan waktu sekitar 5 hingga 6 bulan, mampu memproduksi beras hitam dengan rata-rata gabah kering panen sekitar 6 kuintal per 10 are. 

Pemasaran beras hitam pun tidak terlalu sulit dan harga juga relatif bagus. Saat ini harga mampu mencapai harga Rp20.000 per kilogram.

Selain dukungan pada Program Upsus Pajale dan Program Pembangun Pertanian, UPTD Narmada  juga bermaksud melestarikan sumberdaya genetik lokal yang ada agar dapat  dimanfaatkan generasi yang akan datang. 

Untuk itu dukungan pemerintah pusat sangat dibutuhkan. 

Semoga dengan semangat para petani di daerah, kedaulatan pangan Indonesia, khususnya NTB makin kokoh dan petani makin sejahtera. 

Sumber: Edi Listanto


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)