logo rilis
Penyuluh BPTP Harus Kuasai Inovasi Teknologi dan Komunikasi
Kontributor
Intan Nirmala Sari
10 April 2018, 10:44 WIB
Penyuluh BPTP Harus Kuasai Inovasi Teknologi dan Komunikasi
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Balai Besar Pengembangan dan Pengkajian Teknologi Pertanian (BBP2TP) awal pekan lalu, menyelangarakan Bimtek Peningkatan Kapasitas Penyuluh BPTP yang diikuti oleh seluruh penyuluh seluruh Indonesia. 

Tujuan Bimtek adalah, mempersiapkan tenaga penyuluh yang handal dan mampu menyampaikan inovasi teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. 

Sebagaimana diketahui, Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan banyak inovasi, yang sebagian telah disusun ke dalam 500 teknologi inovatif Balitbangtan.

Inovasi ini, harus dimanfaatkan oleh masyarakat, karenanya penyuluh sebagai salah satu ujung tombak pembangunan pertanian, sangat diharapkan perannya dalam mendiseminasikan inovasi teknologi Balitbangtan sesuai Permentan 19/2017.  

Kepala BB Pengkajian Haris Syahbuddin  menyampaikan, apresiasi yang tinggi dan ungkapan bahagia dan bangga bisa berada di tengah-tengah para penyuluh se-Indonesia.  Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para fasilitator.

Haris yakin, pelaksanaan Bimtek ini memberikan hasil yang maksimal. Ia juga mengharapkan, sepulang Bimtek ini akan dilanjut dengan Bimtek kepada penyuluh di daerah di masing-masing BPTP. 

Materi utama yang telah disampaikan, diakui Haris sangat penting bagi peningkatan kapasitas penyuluh BPTP, antara lain identifikasi wilayah, kinerja diseminasi penyuluhan dan pengembangan media diseminasi, public speaking  serta character building

Haris semakin merasa yakin atas hasil yang ditunjukan Bimtek, bakal menjadi dasar bagi pelaksanaan Bimtek lanjutan yang akan dihadiri penyuluh BPTP dan penyuluh daerah. Karena, dengan bertemunya penyuluh dari BPTP dan daerah dalam satu kesempatan akan makin memudahkan penyeragaman ide, pemikiran dalam pelaksanaan programa penyuluhan. 

Mindset baru akan kita bangun, untuk menumbuhkan kemampuan kawan-kawan penyuluh dari BPTP dan Penyuluh Daerah,” yakin Haris.

Terkait  peran penyuluhan, Kepala BB Pengkajian juga mengulas aspek padu padan yang perlu ditingkatkan, tidak hanya di antara SDM (sumber daya manusia) di lingkup Balitbangtan, tetapi juga SDM di lingkaran UK/UPT lain dan institusi yang lebih luas, baik Kementan dan lainnya.  Agar open innovation berjalan dengan baik, inovasi teknologi perlu dipelajari dari sumber yang lebih tinggi.

Mengingat tantangan ke depan semakin tidak ringan, padu padan antara BPTP dan Balit perlu makin ditingkatkan. Keberhasilan hilirisasi inovasi teknologi akan sangat berpengaruh pada inovasi yang di-delivery oleh BPTP.  Mulai dari sektor hulu, tengah, hingga hilir, setiap perubahan menuntut intervensi teknologi, dan penyuluh sebagai garda terdepan.

Disebutkan Haris, alokasi anggaran untuk kegiatan penyuluhan sudah mulai diturunkan ke kegiatan yang terintegrasi dengan Balitbangtan. Alokasinya semakin jelas, menunjukkan pelaksanaan kegiatan penyuluhan semakin penting, diharapkan mandat yang diserahkan ke Balitbangtan bisa dilaksanakan dengan baik.

“Dan ini butuh kesadaran penyuluh untuk selalu dekat dengan teknologi,” ungkap Haris.

Kegiatan penyuluhan tidak lagi bisa didekati dengan cara konvensional, walaupun kearifan lokal atau indigenous knowledge, perlu dipertahankan dengan keragaman budaya dan sosial yang dimiliki Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

“Karenanya, spektrum kegiatan penyuluhan begitu luas jangkauan dan pendekatan yang dilakukan,” tambah Haris.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BB Pengkajian juga mengingatkan para penyuluh untuk memahami dengan cermat penyusunan program Proyek Prioritas (ProP) ke-6 yaitu Diseminasi Hasil Penelitian, yang merupakan turunan Program Prioritas Nasional ke-4 yang disebut Pemantapan Ketahanan Energi, Pangan dan Sumberdaya Air dan Kegiatan Prioritas 11 yaitu Penguatan Kelembagaan dan Layanan Pertanian dan Perikanan, termasuk dalam hal ini Kelembagaan Penyuluhan Pertanian. 

Kegiatan diseminasi hasil penelitian mengacu pada indikator proyek, yakni diseminasi litbang bioteknologi dan SDG pangan; Diseminasi teknologi litbang pasca panen; Diseminasi teknologi mektan; Diseminasi inovasi teknologi komoditas hortikultura; Diseminasi inovasi teknologi komoditas perkebunan; Diseminasi inovasi teknologi pengelolaan sumber daya lahan pertanian; Sekolah lapang kedaulatan pangan mendukung swasembada pangan terintegarasi desa mandiri benih dan pengembangan inovasi perbenihan dan perbibitan untuk pengembangan benih VUB dan GUB.

Harapan lain yang juga menjadi perhatian Kepala BB Pengkajian terhadap para penyuluh:

1. Saat ini penyuluh menghadapi petani yang tidak mudah percaya terhadap teknologi yang didiseminasikan, sehingga kemampuan dalam menyampaikan materi menjadi kunci utama yang dibutuhkan dalam rangka mencapai target perubahan ¾ mindset atau perilaku petani

2. Perubahan ¼ mindset atau perilaku, sisanya diperoleh dari evidence atau bukti-bukti nyata berupa demplot hasil pelaksanaan di lapangan

3. Mengatasi masalah distribusi dan ketersediaan inovasi teknologi titik kuncinya adalah bagaimana logistik, minimal benih tersedia di lapangan

4. Harus mampu melaksanakan padu padan dengan kawan penyuluh di daerah.  Jangan men-delivery teknologi yang tidak diperlukan oleh penyuluh daerah

5. Penyuluh melengkapi Sistem Inovasi Badan Litbang dalam rangka memberikan feedback bagi kawan-kawan di Balit/BBP2TP/BPTP itu sendiri.  Harapannya bila dapat dipotret dengan jelas, keunggulan teknologi akan mampu dibangun dan  adopsi bisa menang.  

6. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pemikiran AEZ yaitu skala bertani dalam kawasan miniaml 50 hektare, tidak dalam spot-spot kecil

”Keterkaitan antara kemampuan meyakinkan, dan penguasaan teknologi menjadi titik temu yg sangat penting, lima ratus teknologi harus dikuasai, karena itulah showcase Badan Litbang Pertanian,” pungkas Haris.

Sumber: Elya Nur Wulan/Humas Balitbangtan


500
komentar (0)