logo rilis
Pentingnya Teknologi Pascapanen untuk Komoditas Hortikultura
Kontributor
Fatah H Sidik
06 Mei 2018, 22:11 WIB
Pentingnya Teknologi Pascapanen untuk Komoditas Hortikultura
Bawang putih salah satu komoditas hortikultura. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Kudus— Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi, mengatakan, penerapan teknologi pascapanen dan pengelolaan hasil hortikultura telah berkembang di Indonesia. Hal tersebut tecermin dari berbagai produk olahan yang dihasilkan.

"Untuk hilirisasi produk bawang merah, sedang dikembangkan industri pasta di Brebes. Di Kudus, sudah dikembangkan teknologi controlled atmosphere storage (CAS) untuk penyimpanan," ujarnya kala mengunjungi industri alat mesin pertanian (alsintan) di Kudus, Jawa Timur, Minggu (6/5/2018).

Katanya, hal tersebut penting dilakukan, mengingat karakteristik komoditas hortikultura mudah rusak, busuk, dan susut. Sehingga, perlu diatasi dengan teknologi hilir mencakup penanganan saat panen, pascapanen, pengolahan, penyimpanan, sortasi, dan pengemasan. Solusi itu, merupakan upaya selain diekspor.

"Banyak manfaat dari gudang penyimpanan seperti CAS ini. Yaitu, mampu menjaga susut kurang 10 persen, dibandingkan pola penyimpanan biasa tanpa CAS sekitar 30 hingga 40 persen susut," terangnya. CAS digunakan untuk menyimpan atau mengawetkan buah, sayuran, dan benih agar mutu dan kualitas terjaga.

Karenanya, Kementan mendorong hilirisasi produk hortikultura dibangun di pedesaan. "Dampaknya pasti akan menciptakan nilai tambah, menyerap tenaga kerja lokal, dan menyejahterakan petani," ucapnya.

Hal senada diutarakan Vice Plant Manajer PT Pura Agro Mandiri, Agung Subani. Menurutnya, biaya menyimpan di dalam CAS sebesar Rp1.000 per kilogram per bulan. Tanpa CAS, diklaim biayanya jauh lebih mahal. Itu sudah memperhitungkan nilai investasi.

"Beberapa petani bawang merah dan juga BUMN, telah menyimpan produk dan benihnya di dalam CAS Kudus sini. Kita mempunyai CAS dengan kapasitas 400 ton," katanya.

Dia menambahkan, CAS berbeda dengan cold storage yang cuma menjadi refrigerator. Sedangkan CAS, juga sebagai storage room, mengatur kelembaban, menyerap oksigen dan karbondioksida, serta mengontrol nitrogen dan ethylene. "CAS bisa menyimpan produk segar 3-6 bulan. Kualitas dan kesegaran tetap terjaga, dan susut bobot sangat rendah kurang dari 10 persen," tambahnya.

PT Pura, lanjut Agung, turut mengembangkan industri olahan produk hortikultura dalam botol kemasan dan saset. Cabai bubuk, misalnya. Cabai bubuk diolah dari cabai yang sudah tak terlalu segar atau hasil panen yang kualitasnya tidak diterima pasar. Jika belum diolah, harga jualnya cuma Rp6.000 per kilogram.

"Namun saat menjadi cabai bubuk dalam kemasan botol plastik, harga per kilogram mencapai ratusan ribu rupiah. Ini sungguh merupakan nilai tambah yang luar biasa," ungkapnya.

Di Kudus juga berkembang industri alsintan skala kecil. Misalnya, perontok jagung, pengayak tepung, pengayak kedelai, pengepres jerami pakan ternak, blower angin untuk kandang ayam, dan kultivator.

Direktur PT UKABE Indonesia, Hari Martono, menyatakan, pihaknya selaku pelaku industri kecil di bidang alsintan siap memasok kebutuhan petani. "Kami mempunyai perkumpulan industri kecil tersebar di 13 kabupaten di Pulau Jawa. Sering berkoordinasi dalam memberikan pelayanan kebutuhan alsintan di setiap wilayah," pungkasnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)