logo rilis
Pentingnya Lahan Suboptimal untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan
Fatah H Sidik
11 Mei 2018, 23:46 WIB
Pentingnya Lahan Suboptimal untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan
Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Ani Andayani (tengah), foto bersama mahasiswa STPP Magelang usai FGD

RILIS.ID, Yogyakarta— Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Ani Andayani, mengatakan, lahan suboptimal (LSO) harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Sebab, lahan pertanian subur terbatas.

Berdasarkan analisis Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), terangnya, butuh 7,3 juta hektare lahan baru pada 2015 untuk kedaulatan pangan. Perinciannya, tanaman padi 1,4 juta hektare, kedelai dua juta hektare, jagung 1,3 juta hektare, serta tebu dan hortikultura 2,6 juta hektare.

Jumlahnya meningkat dua kali lipat demi terwujudnya visi Lumbung Pangan Dunia 2045 yang dicanangkan Menteri Amran. "Terdiri dari 4,9 juta hektare sawah, 8,7 juta hektare lahan kering, dan 1,2 juta hektare lahan rawa," saat grup diskusi terarah (focus discussion group/FGD) "Tata Kelola Infrastruktur Pertanian" di Yogyakarta, Jumat (11/5/2018).

Sayangnya, ungkap Ani, mengolah LSO bukanlah hal mudah. Pasalnya, tanaman yang tumbuh di LSO secara alamiah produktivitasnya rendah akibat faktor internal dan eksternal. "Sebagian di antaranya terdegradasi dan terlantar," akunya.

Meski begitu, sekitar 15 persen lahan sawah yang ada (existing) dan 60 persen lahan kering juga yang merupakan LSO, sudah berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan, sekitar 58 persen di antaranya secara geofisik potensial dijadikan lahan pertanian dan dengan inovasi teknologi pertanian.

Sebagai informasi, LSO di Indonesia mencapai 153,13 juta hektare. Namun, potensi lahan tersedia hany 33,4 juta hektare, baik yang di lahan kering maupun lahan rawa.

Potensi pertanian LSO di lahan kering 99,65  juta hektare dan yang tersedia 25,82 juta hektare. Perinciannya, 5,92 juta hektare areal penggunaan lain (APL), 4,4 juta hektare hutan produksi konversi (HPK), serta 15,5 juta hutan produksi (HP).

Sedangkan potensi pertanian LSO di lahan rawa seluas 19,99 juta hektare dan 7,63 juta hektare di antaranya tersedia untuk dimanfaatkan. Detailnya, 1,5 juta hektare APL, 1,7 juta hektare HPK, dan 4,5 juta HP.

Atas dasar itu, Kementan bersama Komisaris Daerah Perhimpunan Agronomi Indonesia (Komda Peragi) DIY menggelar FGD tersebut. Tujuan lainnya, mengetahui dan menggali potensi serta memahami masalah-masalah penting dalam pemanfaatan LSO.

Kemudian, membahas langkah-langkah strategis dalam upaya pengelolaan irigasi dan drainase untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Juga untuk mempersiapkan petunjuk teknis bagi pendamping lapangan dalam pengelolaan irigasi dan drainase.

"Petunjuk lapangan ini, bertujuan untuk membekali pendamping lapangan dari dana desa untuk mewujudkan 30 ribu unit embung kecil dan bangunan tata air lainnya, sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2018, agar diimplementasikan secara optimal di pedesaan dalam rangka ketahanan pangan nasional," tutur Ani.

Dengan demikian, FGD tahap XI tersebut bakal mengeluarkan rekomendasi terkait infrastruktur irigasi dan drainase LSO serta pengelolaan air berbasis kearifan lokal. Lalu, budi daya komoditas alternatif di LSO, pengembangan sumber daya lingkungan lokal untuk pertanian berkelanjutan, dan strategi budi daya tanaman pangan dalam menghadapi perubahan iklim.

FGD dihadiri sejumlah narasumber berkompeten di bidangnya masing-masing. Misalnya, akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Didiek Indradewa, mengulas soal pengelolaan air berbasis kearifan lokal.

Sedangkan Dr. Sumarwoto, memaparkan tentang komoditas alternatif di LSO. Lalu, akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Gatot, membahas pengembangan sumber daya lokal.

Adapun Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) DIY, memaparkan pengalaman lapangan terkait strategi budi daya tanaman pangan antisipasi dampak lingkungan. FGD sendiri diikuti 20 mahasiswa Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang.


500
komentar (0)