logo rilis
Pensiun Hari Ini, Misbakhun Sebut Gubernur BI Wariskan Posisi Rupiah Rp14.200
Kontributor
Nailin In Saroh
23 Mei 2018, 04:14 WIB
Pensiun Hari Ini, Misbakhun Sebut Gubernur BI Wariskan Posisi Rupiah Rp14.200
Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun memberikan catatan kritis terhadap kinerja Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo. Pasalnya, Agus akan mengakhiri jabatannya sebagai orang nomor satu di bank sentral besok (23/5/2018) setelah lima tahun menjabat.

Misbakhun mengungkapkan, Agus diangkat menjadi gubernur BI pada Mei 2013 saat kurs dolar di posisi Rp 9.700. Sedangkan saat ini nilai tukar sudah mencapai Rp 14.200.

Menurut Misbakhun, perjalanan rupiah selama lima tahun BI di bawah kepemimpinan Agus telah menjadi catatan tersendiri. 

“Alhamdulillah, Bapak Agus mewarikan legacy kepada kita nilai tukar dolar di angka Rp14.200 dan ini akan dicatat oleh bangsa dan negara kita,” ujar Misbakhun dalam rapat kerja Komisi XI DPR dengan BI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Agenda rapat kerja itu adalah pelaporan tentang capaian Gubernur BI Agus Martowardojo selama menjabat periode 2013-2018. Misbakhun menambahkan, ada selisih Rp4.200 dalam hal kurs dolar saat Agus mulai menduduki posisi Gubernur BI dengan akhir masa jabatannya. 

Misbakhun menilai, selisih dan perjalanan rupiah belakangan ini harus menjadi catatan bagi Gubernur BI baru pengganti Agus. Untuk itu menurutnya, harus ada solusi kongkret untuk mengangkat nilai tukar rupiah.

“Angka Rp14.200 ini akan menjadi sebuah notifikasi baru bagi kita, akan ke mana nilai tukar ini kita dibawa? Apakah kita akan melakukan redominasi, atau akan kita turunkan melalui mekanisme yang ada?” beber Misbakhun.

Politisi Golkar itu mengatakan, cadangan devisa  RI pada akhir April lalu di angka USD124,9 miliar. Sedangkan kini jumlah devisa turun menjadi USD105,2 miliar karena ada operasi moneter ketika kurs dolar memasuki zona Rp14.000.

Misbakhun pun lantas mempertanyakan efektivitas operasi moneter yang dilakukan BI. Padahal, saat ini BI tak hanya memiliki undang-undang (UU) tersendiri, tetapi juga diperkuat dengan UU Transfer Dana dan UU Devisa Bebas. 

Dikatakan Misbakhun, fundamental ekonomi Indonesia yang kuat seharusnya tak terlalu terpengaruh gejolak di mancanegara. Selain itu, kata mantan pegawai Kementerian Keuangan itu, harus ada strategi panjang ke depan untuk membangun bank sentral. 

“Review panjang saya ini menjadi bahan refleksi bagaimana BI ke depan dikelola. Bagaimana BI ke depan dijalankan dan dioperasionalkan menjadi kebijakan moneter yang memberi dampak langsung terhadap kemakmuran rakyat,” pungkasnya.

Editor: Yayat R Cipasang


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)