logo rilis
Pengusutan Dugaan Korupsi Mantan Presiden Prancis Resmi Digelar
Kontributor
Syahrain F.
22 Maret 2018, 23:32 WIB
Pengusutan Dugaan Korupsi Mantan Presiden Prancis Resmi Digelar
Mantan presiden Prancis Nicolas Sarkozy dibawa meninggalkan kantor polisi untuk meninggalkan penahanan sementara, di Nanterre, pada Rabu (21/3/2018). FOTO: AP

RILIS.ID, Paris— Investigasi resmi digelar untuk mengusut kasus yang mendera mantan presiden Prancis Nicolas Sarkozy. 

Media lokal menyebut, Sarkozy dituduh melakukan korupsi pasif, pendanaan kampanye ilegal, dan penyalahgunaan dana publik.

Kejaksaan mengatakan telah memiliki cukup bukti untuk membawa kasus itu ke meja hijau.

Sarkozy, 63 tahun, sempat dibebaskan pada Rabu  (21/3/2018) setelah diinterogasi selama dua hari terkait pendanaan kampanye kepresidenannya pada 2007 lalu. Diduga, dana itu diterimanya dari mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi.

Penyelidik mencoba mengungkap mengenai dugaan bahwa Sarkozy di balik meja menerima dana sekitar €50 juta dari rezim Gaddafi untuk mendanai kampanyenya yang kemudian mengalahkan kandidat Segolene Royal dari Partai Sosialis.

Untuk pertama kalinya, Sarkozy dibawa maju dalam penyelidikan yang tengah dimulai lima tahun lalu. Mantan presiden Prancis tahun 2007-2012 itu selalu membantah semua tuduhan tersebut.

Salah satu mantan pejabat dan kawan dekat Sarkozy, Brice Hortefeux, juga dicecar pertanyaan polisi pada Selasa lalu.

Pebisnis Prancis Alexandre Djouhri, mantan penasehat Sarkozy, pada Januari ditahan di London atas dugaan penipuan dan pencucian uang yang masih terkait kasus ini. Saat ini, Djouhri sedang mengupayakan agar diekstradisi ke Prancis.

Hakim Serge Tournaire dan Aude Buresi mendalami kasus inni sejak April 2013 untuk memastikan adanya bukti yang menunjukkan Sarkozy menerima dana ilegal dari Libya.

Pada Juni 2016, pengadilan Prancis mengatakan tidak percaya keaslian sebuah dokumen yang menunjukkan Gaddafi menawarkan €50 juta kepada Sarkozy.

Dokumen itu pertama dirilis oleh situs investigasi Prancis, Mediapart, pada 2012.

Selain itu, koran Le Monde juga mengungkapkan "adanya sistem kriminal yang besar, yang melibatkan pejabat-pejabat tinggi Sarkozy.

"Jaringan ini melindungi seorang mantan pemimpin negara, termasuk anggota-anggota kepolisian atau jaksa yang masih loyal kepadanya, dan juga pebisnis, perantara, diplomat, dan juga wartawan," tulis Le Monde.

Jaringan itu diduga dibentuk ketika Sarkozy menjadi Menteri Dalam Negeri pada 2002, yang kemudian menjadi batu loncatannya menjabat sebagai presiden pada 2007.

Sumber: Anadolu Agency


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)