logo rilis
Pengin Manfaatkan Bonus Demografi
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
16 Maret 2018, 22:36 WIB
Pengin Manfaatkan Bonus Demografi
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

TAK lama lagi, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, di mana kaum muda yang produktif akan beredar dengan jumlah yang lebih banyak. Ini menjadi tantangan bagi semua pihak memanfaatkan potensi tersebut, salah satunya partai politik.

Pada Pemilu 2019 ini, ada salah satu partai politik yang mengusung platform generasi milenial, yakni Partai Solidaritas Indonesia. Partai itu mengklaim sebagai representasi kawula muda untuk berpolitik dengan baik.

Lantas, apa sebenarnya PSI ini? Apakah memang sudah menjawab kebutuhan dari generasi milenial? Apa tawaran berbeda yang ditawarkan PSI dari parpol-parpol lain?

Untuk mendapatkan jawaban itu semua, wartawan rilis.id, Zulhamdi Yahmin mewawancarai Sekjen PSI, Raja Juli Antoni dan Direktur Politik Dalam Negeri (Poldagri) Ditjen Polpum Kemendagri, Bahtiar. Berikut petikan wawancaranya,

Raja Juli Atoni

PSI hadir di tahun politik ini untuk apa?

Kehadiran PSI ini menjawab tantangan zaman sebenarnya. Jadi, kita paham bahwa kita sudah menerima demokrasi sebagai cara kita hidup berbangsa, akan tetapi kita lihat entitas yang paling penting dalam demokrasi yaitu partai politiknya enggak pernah melakukan reformasi melakukan perbaikan diri. 

Nah, itu bisa kita lihat misalkan dalam berbagai survei yang menunjukkan betapa partai politik dan DPR adalah institusi yang paling kurang dipercayai rakyat. DPR representasi partai politik yang mestinya mewakili aspirasi rakyat malah kedodoran, enggak memiliki kemampuan itu. 

Dari situ kami berpikir bahwa masih ada kekuatan baru di politik yang memiliki cara berpikir baru, memiliki perilaku politik baru, pola pikir politik baru untuk kembali mengawal demokrasi kita ini.

Kenapa memilih platform generasi milenial, kenapa enggak umum saja?

Pertama bahwa sejarah menunjukkan bahwa estafet kepemimpinan itu merupakan keniscayaan sejarah. Yang kedua, kita akan menyambut bonus demografi. 

Kalau seandainya bonus demografi ini tidak dikelola dengan baik, terutama aspirasi anak-anak muda, tidak dapat kita tangkap dengan baik, maka bonus demografi ini akan menjadi semacam bencana demografi. 

Jadi, pemilih pemula atau pemilih muda nanti akan signifikan, nanti di Pemilu 2019, kami melihat hanya sedikit bahkan tidak ada partai yang dapat mengerti apa yang dipikirkan, apa yang diharapkan oleh anak-anak muda. 

Apa yakin bisa memenuhi parlementary treshold 4 persen?

Ya tanpa bermaksud takabur, tanpa bermaksud sombong ya, rasanya target 4 persen itu bukan lah target yang terlalu sulit untuk kami lalui ya. Ada beberapa alasan, pertama tadi sudah disinggung bahwa tidak ada partai politik pada hari ini yang perform, yang dapat menjadi representasi rakyat. 

Akan mewarnai DPR seperti apa kalau lolos?

Yang pasti, kami akan tegas memperkuat institusi penegakkan hukum. KPK, kepolisian, dengan memperkuat tentunya proses low inforcment, yang paling penting itu. Karena salah satu kendala bangsa ini termasuk kenapa ekonomi kita tidak bisa tumbuh secara pesat salah satunya karena low inforcment yang buruk. 

Nah, salah satu cara untuk melakukan itu ya tentu memperbaiki sistem rekrutmen maupun sistem pembayaran ataupun gajian di institusi penegakkan hukum seperti kepolisian, kehakiman, kejaksaan. 

Kalau enggak lolos?

Saya bahkan tak punya prediksi, praduga bahwa kami akan di bawah 4 persen. Jadi enggak ada skenario kecuali kami menang.

Generasi milenial ini kan dianggap apatis terhadap politik, cara PSI bagaimana?

Saya enggak terlalu setuju bahwa anak muda hari ini apatis dan enggak "melek" politik. Selama ini, mereka cukup melek politik, tapi memang ekspresi politiknya anti mainstream. 

Bukan politik konvensional dengan bergabung di partai tertentu. Ada yang bikin bike to work, itu kan ekspresi politik sebenarnya. Bagaimana dia menuntut supaya space untuk sepeda, peduli lingkungan, itu kan politik. Kritik kepada pemerintah yang tidak peduli memberikan jalur khusus kepada pengguna sepeda. 

Nah, kami hari ini mengimbau kepada anak-anak muda, mari bersama-sama teruskan ekspresi politik yang selama ini dijalankan. Tapi untuk membuatnya permanen, mau enggak mau, memang harus mengubah kebijakan publik, dan yang mengubah kebijakan publik yang paling efektif adalah melalui partai politik. Dan PSI siap memperjuangkannya.

Bahtiar

Munculnya PSI apakah memberi harapan generasi muda "melek" politik?

Pemilih muda akan tetap jadi "swing voters". Ini akan membuka peluang bagi semua partai politik. Mereka punya kesempatan yang sama untuk meraih suara dari massa mengambang tersebut. Tinggal bagaimana strateginya saja. Karena, pada akhirnya kembali ke metode konvensional, yakni melihat tokoh serta panutan di lingkungannya.

Benarkah partai milenial ini mampu merangkul anak-anak muda sebagai pemilihnya?

Kesulitannya parpol baru ini kan, belum teruji kinerjannya. Itu yang menjadi kekuatan parpol-parpol besar, yakni dengan figur-figur yang sudah ada. Masalahnya, keterikatan politik di Indonesia masih berasaskan "patron" serta budaya lokal. Jadi, masih dilihat figur yang dianggap memiliki ketokohan. Mereka lah yang kemudian dipilih.

Masalahnya, tokoh-tokoh ini kan sudah bergabung ke partai-partai lama. Apalagi, pemilih kita ini bukan pemilih rasional. Kalau melihat data, sekisar 60 persen dari mereka adalah lulusan SMA. Dengan tingkat pendidikan tersebut, ditambah pendidikan politik yang rendah, tentu masih perlu yang namanya ikatan emosional lokal. 

Tapi, bukannya banyak publik figur di PSI ini?

Kesukaan tidak menjamin keterpilihan, kan. Jadi, elektabilitas itu tak selalu berpengaruh terhadap popularitas. Kalau memang populer dan terpilih, mungkin saja sudah lama sosok tersebut melakukan kerja sosial di lingkungannya. Para pemilih ini masih bergantung pada rasa, bukan lagi rasio (akal).

Bagaimana merangkul para pemilih muda?

Perlu pendidikan politik. Tapi, bukan dengan gaya konvensional. Lebih kepada metode modern, seperti menggunakan media sosial atau sambil *ngopi-ngopi santai. Jadi, anak-anak muda ini tidak bisa kita ajak dalam sebuah forum, kemudian diceramahi. Sudah tidak masuk cara-cara lama seperti ini, harus yang lebih kekinian dan sejalan dengan mereka.

Mengapa susah sekali parpol-parpol ini menggaet generasi muda?

Partai-partai lama ini kan punya pemilh ideologis yah, dan cenderung bertambah. Biar mereka diam sekalipun, sudah ada pemilih yang siap mencoblos partai tersebut. Lihat saja ketika 2014 lalu, 49 persen pemilih mencolok gambar, dan 51 persen colok orang. Nah, ini artinya, parpol memang punya kedekatan yang sangat kuat dengan pemilih.

Kalau mau dipilih, kuncinya harus memahami karakteristik dan budaya masyarakat kita. Kalau itu bisa dilakukan, dengan kombinasi sedikit pakai cara-cara rasional, seperti orasi, ceramah politik, sudah pasti dapat pemilih.

Parlementary treshold ini kan juga jadi masalah, kenapa malah makin naik angkanya?

Ambang batas parlemen ini memperkuat sistem parpol dan parlemen. Konsepnya, kalau penyeberan keuatan parpol terlalu besar, terlalu banyak fraksi, pasti membuat pemerintahan tidak efektif. Semisal, ingin mewujudkan regulasi, kan semua harus pakai persetujuan DPR. Makanya, ada yang namanya parlementary treshold supaya menyederhanakan fragmentasi kekuatan parpol.

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID