logo rilis
Penggunaan 'Gadget' Berdampak Buruk terhadap Kesehatan Mata
Kontributor
Fatah H Sidik
28 April 2018, 21:17 WIB
Penggunaan 'Gadget' Berdampak Buruk terhadap Kesehatan Mata
Telepon genggam (handphone/HP), salah satu jenis gawai (gadget). FOTO: pixabay.com

RILIS.ID, Surabaya— Ahli kesehatan mata Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center, dr Nina Asrini Noor, mengingatkan, penggunaan gawai (gadget) menjadi salah satu penyebab terbesar meningkatnya tren sindrom mata kering di Indonesia.

"Sindrom mata kering atau dry eye syndrome, adalah kondisi mata yang mengalami kekurangan cairan akibat air mata yang mudah menguap atau produksi air mata terlalu sedikit," ujarnya dalam dialog di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (28/4/2018).

Menurut laporan US National Library of Medicine National Institute of Health (NCBI), terangnya, sekitar 60 juta orang di dunia mengalami mata kering. Prevalensinya di Tanah Air pada 2017 sekitar 30,6 persen dari jumlah penduduk.

"Penyebab sindrom mata kering, sebenarnya beragam. Mulai dari usia, faktor lingkungan seperti debu dan asap rokok, riwayat operasi mata, penyakit autoimun dan diabetes, penggunaan obat tertentu seperti tetes mata, dan aktivitas penggunaan komputer atau gawai," bebernya.

Namun, tambah Nina, penggunaan gawai dalam waktu lama dan kurang tepat, bakal membuat mata menjadi lelah, perih, dan gatal. Dampak lainnya, menyebabkan gangguan serius pada kesehatan mata.

"Sayangnya, banyak orang kurang menyadari. Gejala-gejala ini, adalah gangguan yang harus ditangani segera. Apalagi dari pasien yang terdeteksi terkena sindrom mata kering ini, 40 persennya tidak merasakan gejala," ungkap dia.

Beberapa ciri-ciri mata kering bisa dirasakan. Misalnya, mata mengganjal, sering berair, mata merah, terasa kering, berasa berpasir, kotoran mata, hingga terasa lengket.

Penanganannya, disesuaikan jenisnya. Di usia muda dan lanjut jenisnya berbeda dan derajatnya, apakah ringan, sedang, atau berat.

"Terapi mata kering bisa dilakukan dengan tetes mata, bervariasi jenisnya. Sementara untuk tindakannya tidak lazim bagi masyatakat umum, karena air mata kering juga konsepnya tidak sederhana sistemnya," tutup Nina.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)