Home » Peristiwa » Nasional

Pengamat: Sosok Panglima TNI yang Baru Tidak Boleh Berpolitik

print this page Selasa, 14/11/2017 | 14:56

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Deputi Direktur Riset Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Wahyudi Djafar meminta, Panglima TNI yang baru berkomitmen untuk tidak berpolitik praktis. Dia berharap agar sosok pengganti Jenderal Gatot Nurmantyo itu harus tunduk pada kebijakan militer.

"Dalam konteks ini, pergantian Panglima TNI harus juga dijadikan sebagai momentum untuk membangun TNI yang profesional, tidak berpolitik, memiliki kompetensi dalam bidangnya dan tunduk pada perintah otoritas sipil," katanya, Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Tak hanya itu saja, ia juga mengimbau Presiden untuk secara serius mencermati calon kandidat Panglima TNI. Sosok Panglima TNI yang baru harus diupayakan lepas dari intervensi politik, mengingat tahun depan negara disibukan dengan agenda politik. 

"Apalagi di tengah kondisi politik penyelenggaraan agenda politik elektoral, seperti Pilkada serentak tahun 2018, Pileg dan Pilpres 2019. Di tengah dinamika politik itu, tentu dibutuhkan Panglima TNI baru yang tegas dan mampu menjaga netralitas dan profesionalisme militer," tutupnya.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo akan pensiun pada Maret 2018. Sebelumnya, Ketua Setara Institute Hendardi menilai, pergantian Panglima TNI bisa dipercepat. 

Percepatan itu menurut Hendardi, perlu dilakukan mengingat banyaknya kegaduhan yang ditimbulkan sejak Gatot banyak membicarakan persoalan politik.

"Selain proses di DPR yang cukup lama, menyegerakan pergantian Panglima TNI juga akan mempercepat penuntasan agenda reformasi TNI, yang selama kepemimpinan Gatot justru stagnan dan bahkan mengalami kemunduran karena hasrat politik sang panglima yang mengemuka sebelum waktunya," papar Hendardi.

Penulis Tari Oktaviani
Editor Sukarjito

Tags:

Panglima TNIGatot NurmantyoELSAM

loading...