logo rilis
Pengamat Sebut Buzzer Lebih Efektif Tangani Corona ketimbang Influencer
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
05 Agustus 2020, 17:00 WIB
Pengamat Sebut Buzzer Lebih Efektif Tangani Corona ketimbang Influencer
Seorang pelanggar aturan membersihkan sampah setelah dijatuhi hukuman saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kawasan perbatasan Tangerang-Jakarta di jalan Daan Mogot, Jakarta. FOTO: RILIS.ID/Panji Satria

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat media sosial dari Komunikonten, Hariqo Wibawa mengatakan, peran influencer dalam menangani COVID-19 belum maksimal. Justru, menurutnya, buzzer lebih efektif untuk memengaruhi masyarakat.

"Sebenarnya influencer ini kan orang yg dianggap terpengaruh salah satu ukurannya follower-nya. Konteks COVID-19 yang lebih diperlukan buzzer tidak perlu improvisasi diperlukan buzzer bisa sebarkan informasi para ahli seperti pakai masker dan jaga jarak. Itu yang diperlukan publik," Hariqo di Jakarta, Selasa (4/8/2020).

Hariqo mengatakan, narasi yang dibangun influencer COVID-19 tidak boleh memerintah untuk mengikutinya. Ia menyarankan, narasi yang dibangun lebih menakut-nakuti secara persuasif.

"Tidak boleh memerintah artinya harus mempersuasif ajakan maksudnya itu mengajak orang ini saling menjaga, kamu melindungi orang lain pakai masker. Narasi dibangun bukan pribadi tapi ke sosial. Karena kamu sudah menyalamatkan orang banyak, tapi ini juga soal kematian. Ini harus diarahkan seperti menakut-nakuti secara persuasif," ujar dia.

Menurut Hariqo, justru yang lebih efektif media sosial yang memiliki pengikut aktif. Meski jumlah followers sedikit tetapi punya interaksi dan dapat dipengaruhi. 

"Influencer itu istilahnya dia punya massa tapi massanya itu tidak kenal. Jadi dibutuhkan penggunan media sosial biasa yang real karena orang itu cenderung punya teman katakanlah cuma 500 orang itu lebih berpengaruh karena orang-orang kenal itu lebih efektif," jelasnya.

"Karena kan tujuan influencer ini untuk membangun kepercayaan sains, membangun kepecayaan riset-riset dari UI, Unair, lembaga kemasyarakatan lebih mengarah pesan para ahli. Kesannya bukan mereka yang buat," paparnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID