logo rilis

Pengamat: Pendidikan Politik Bisa Masuk Kurikulum Sekolah
Kontributor
Tio Pirnando
09 Januari 2018, 13:20 WIB
Pengamat: Pendidikan Politik Bisa Masuk Kurikulum Sekolah
ILUSTRASI: RILIS.ID/ Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat pendidikan Andreas Tambah menyarankan agar pendidikan politik bagi pemilih pemula atau pemilih milenial di masukkan kedalam kurikulum sekolah. Hal itu bertujuan memberikan pemahaman kepada mereka tentang politik ideal sebenarnya.

"Pendidikan politik bisa dimasukan ke dalam kurikulum sekolah khususnya di jenjang SMA atau SMK," ujar Andreas kepada rilis.id, di Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Menurutnya, pendidikan politik bagi pemilih pemula ini bisa diawali dengan melakukan penelaahan kondisi perpolitikan saat ini. Hal ini dilakukan sebelum materi dimaskukan ke dalam kurikulum sekolah.

Karena, lanjut Andreas, politik terkini sudah sangat berkembang. Banyak perubahan baik dari sistem politik dan peraturan yang ada, bahkan beberapa telah dicantumkan kedalam berbagai Undang-Undang (UU). Seperti pilkada, pilpres dan pemilu.

Andreas menyebut, pemerintah harus memberikan pendidikan politik kepada pemilih pemula dengan benar. Sehingga, menghindari terpaparnya siswa pada isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Akhir-akhir ini dia menilai, banyak partai politik menggunakan isu SARA untuk memenangkan kandidatnya. Bagi Andreas, hal tersebut tidak mendidik para pemilih milenial.

"Politik sekarang cenderung memanfaatkan isu SARA untuk memenangkan kandidat tertentu. Ini yang sangat berbahaya untuk NKRI di masa datang," pungkasnya.


#Pengamat pendidikan Andreas Tambah
#pendidikan politik
#isu suku
#agama
#ras dan antar golongan (SARA)
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)