logo rilis
Pengamat: Jokowi dan Prabowo Saling Menunggu di Menit Akhir
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
15 Juli 2018, 18:50 WIB
Pengamat: Jokowi dan Prabowo Saling Menunggu di Menit Akhir
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, mengatakan, Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto kemungkinan baru mengumumkan cawapresnya di masa injuri time atau menit-menit akhir. 

Keduanya, kata Pangi, bisa saja sengaja menggantung untuk menunda pengumuman nama cawapres yang akan mendampinginya di Pilpres 2019 nanti. 

"Waiting game ini sedang dimainkan masing-masing poros parpol koalisi. Mereka tentu enggak mau layu sebelum berkembang," kata Pangi melalui siaran persnya kepada rilis.id, Minggu (15/7/2018). 

Pangi menilai, partai politik koalisi Jokowi dan Prabowo sengaja saling mengunci untuk menutup ruang komunikasi dan lobi-lobi di tingkat elit. Sehingga, parpol koalisi tak memiliki waktu lagi untuk bermanuver dalam mendukung capres-cawapres. 

"Ketika paket capres dan cawapres sudah diumumkan ke publik menjelang H-1 penutupan pendaftaran capres cawapres, maka otomatis mau tidak mau, suka tidak suka parpol yang tergabung dalam koalisi mesti menerima paket capres dan cawapres tersebut," ujarnya. 

Dia menjelaskan, ada dua model yang kerap dilakukan parpol dalam mengusung capres-cawapres. Pertama, parpol membentuk koalisi terlebih dahulu kemudian mencari sosok figur capres dan cawapresnya. 

"Pola kedua adalah, mencari figur dan sosok baru kemudian merangkul parpol koalisi untuk bergabung membangun poros. Dalam pengalaman peta politik koalisi selama ini, mencari figur dulu, baru membentuk poros koalisi," jelas Pangi. 

"Sekali lagi, ibarat main sepak bola piala dunia, timing sangat menentukan, bermain di injure time atau last minute dengan menunggu bola umpan lambung di menit-menit terakhir bisa mengubah peta konstelasi politik, begitu juga dalam pilpres. Kita tunggu kejutan tersebut," pungkasnya.

Editor: Sukma Alam


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)