logo rilis

Pengamat: Jangan Hanya Kejar Rating, Media Harus Cerdas Beritakan soal Terorisme
Kontributor
Nailin In Saroh
10 Mei 2018, 10:01 WIB
Pengamat: Jangan Hanya Kejar Rating, Media Harus Cerdas Beritakan soal Terorisme

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat terorisme Stanislaus Riyanta, mengingatkan media massa harus bersikap cerdas dalam menyiarkan pemberitaan aksi terorisme.

Menurutnya, media jangan hanya mengejar kecepatan dan rating semata tetapi mengorbankan keselamatan orang lain. Ia mencontohkan. media massa di Indonesia dapat belajar dari peristiwa Mumbai 2008 di Hotel Taj Mahal dalam mempublikasi pemberitaan tentang terorisme, 

"Sejumlah teroris yang berada di hotel, ketika pihak keamanan mengepung pasca pengeboman, memanfaatkan informasi dari media massa yang menyiarkan secara langsung peristiwa tersebut. Teroris menyerang balik pasukan keamanan yang mengepungnya dengan mudah karena informasi lengkap dari media massa. Akhirnya belasan aparat tewas," ujar Stanislaus dalam keterangan tertulis yang diterima Rilis.id di Jakarta, Kamis (10/5/2018).

Dari kasus tersebut, kata Stanislaus, ada pembelajaran penting bahwa kepentingan dan kebutuhan media massa terhadap pemberitaan suatu peristiwa tidak selamanya bermanfaat atau berdampak baik. 

Dalam peristiwa di Mumbai ini, pemberitaan media massa justru menjadi pendorong dan alat bantu bagi teroris untuk beraksi dan menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit dari kalangan aparat.

"Media massa, karena tuntutan kebutuhan pemberitaan bisa memuat berita lain diluar hal-hal teknis dan strategi yang dilakukan oleh aparat keamanan. Banyak sisi yang bisa dimuat tanpa khawatir kehilangan rating," katanya.

Selain tidak menampilkan sisi teknis dan strategi yang dilakukan aparat, ia berharap media massa tetap untuk menumbukan rasa nasionalisme dan pluralisme, menjunjung tinggi kebhinekaan sebagai salah satu kekuatan bangsa, dan tidak menanamkan kebencian terhadap kelompok tertentu atau terlalu memuji-muji kelompok tertentu.

Dalam konteks rusuh Mako Brimob ini, menurutnya, media massa juga harus paham sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa karena pertimbangan keselamatan orang banyak dan dampak jangka panjang, maka masyarakat harus sabar dan menghargai apa yang dilakukan oleh petugas yang menangani kasus. 

"Jangan sampai apa yang dilakukan petugas terekspos media massa dan terpantau dengan jelas oleh napiter di dalam Mako Brimob," tutup Stanislaus.

 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)