logo rilis
Pengalaman Spiritual Berpengaruh Dahsyat pada Otak
Kontributor
Ning Triasih
08 Juni 2018, 22:00 WIB
Pengalaman Spiritual Berpengaruh Dahsyat pada Otak
ILUSTRASI: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Apakah Anda seorang ateis, atau beragama? Menganut agama tertentu atau bahkan tak beragama sekali pun adalah pilihan hidup masing-masing.

Namun, baru-baru ini sebuah penelitian mengungkapkan, otak yang merespons pengalaman spiritual, seolah dapat membuat seseorang terhubung dengan makna atau tujuan hidup lebih tinggi.

Daerah di otak di mana momen transendental diproses telah diidentifikasi sebagai korteks parietal. Para ilmuwan mengatakan, wilayah ini adalah tempat diprosesnya pengalaman luar biasa.

"Pengalaman spiritual adalah keadaan kuat yang mungkin memiliki dampak besar pada kehidupan manusia. Memahami basis saraf pengalaman spiritual dapat membantu kita lebih memahami peran dalam ketahanan dan pemulihan dari gangguan kesehatan mental dan kecanduan," kata ahli saraf Marc Potenza dari Yale University seperti dilansir The Times of India.

Untuk memahami bagaimana pengalaman spiritual memengaruhi seseorang, tim Potenza melakukan sebuah penelitian, yakni dengan mewawancarai 27 orang sehat berbahasa Inggris dari Connecticut dan meminta mereka untuk mengingat pengalaman spiritual yang mereka hadapi dalam kehidupan dengan menceritakannya lewat tulisan.

Setelah seminggu, para peserta dipanggil dan pengalaman mereka dibacakan dengan suara wanita netral, sementara otak mereka menjalani fMRI. Ini membantu para ilmuwan mendaftarkan area otak di mana pengalaman spiritual itu terdaftar secara kognitif.

Apa yang mereka rekam merupakan pengalaman para peserta, menunjukkan aktivitas berkurang di lobus parietal inferior kiri (IPL), bersama dengan aktivitas yang berkurang di thalamus medial serta caudatus. IPL dikaitkan dengan kesadaran diri dan orang lain, sedangkan daerah yang disebut terakhir berhubungan dengan pemrosesan emosi dan sensorik.

"Secara bersama-sama, penemuan ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual mungkin melibatkan pertemuan yang dirasakan dengan 'kehadiran' atau entitas yang luas di luar diri. Penafsiran ini konsisten dengan perasaan kuat akan koneksi atau menyerah kepada dewa atau tokoh yang dihormati lainnya, seperti yang sering terjadi, dilaporkan dalam literatur agama dan spiritual," tulis peneliti.
 


500
komentar (0)