logo rilis
Pengajar Bimbel di Singapura Dihukum Akibat Bantu Siswa Nyontek
Kontributor
Syahrain F.
18 April 2018, 20:43 WIB
Pengajar Bimbel di Singapura Dihukum Akibat Bantu Siswa Nyontek
Ilustrasi menyontek. FOTO: IStock/Chalabala

RILIS.ID, Singapura— Seorang guru les di Singapura mengaku bersalah karena membantu enam siswa Cina mencontek dalam ujian sekolah dengan cara yang sangat canggih. Melansir dari Reuters, cara yang dilakukan guru dan murid tersebut dengan menggunakan panggilan video dan alat pendengar berwarna kulit.

Bimbingan belajar pribadi merupakan salah satu usaha besar di Singapura. Para orang tua bisa menghabiskan uang sebesar 700 dolar Singapura (5,5 juta rupiah lebih) untuk empat pertemuan. Beberapa guru les dikabarkan menjadi jutawan dari usaha itu.

Tan Jia Yan (32) bekerja untuk sebuah pusat bimbingan belajar yang menawarkan jaminan uang kembali jika para murid bimbingannya gagal lulus ujian. Tan mengaku bersalah pada Senin untuk 27 tuduhan kecurangan.

Bersama dengan beberapa rekannya, Tan membantu memasangkan perangkat "bluetooth" dan alat pendengar berwarna kulit kepada siswa, yang terhubung ke telepon saku, yang ditempatkan
secara diam-diam ketika mereka mengikuti ujian pada 2016.

Tan kemudian ikut mengikuti ujian menggunakan kamera ponsel yang terpasang di dadanya untuk mengirim rekaman video dari kertas ke rekan-rekannya melalui aplikasi "Facetime" dan "Facebook." Rekan-rekannya kemudian akan memanggil para siswa untuk memberi tahu mereka jawabannya.

Dokumen pengadilan mengatakan operasi "sangat canggih" tersebut berlangsung antara 19 Oktober hingga 24 Oktober 2016, sebelum ditemukan oleh seorang pengawas. Tan menghadapi hukuman 3 tahun penjara atau denda.

Tiga dari rekan-rekannya, termasuk kepala Pusat Pendidikan Zeus, juga dituntut, tetapi menentang tuduhan itu, menurut laporan media.

Kepala pusat pendidikan tersebut diduga bekerja dengan rekanan Cina, yang akan mengajukan siswa kepadanya, menurut dokumen pengadilan.

Untuk setiap siswa yang diajukan, rekanan tersebut diduga menerima 8.000 dolar Singapura (US$6.100) untuk biaya deposit dan 1.000 dolar Singapura (US$763) lainnya untuk
biaya masuk. Dokumen pengadilan mengatakan enam siswa menjadi saksi dalam perkara tersebut.
 

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)