logo rilis
Pengacara: Made Oka Bantah Puan dan Anung Kecipratan Duit e-KTP
Kontributor
Kurniati
26 Maret 2018, 15:59 WIB
Pengacara: Made Oka Bantah Puan dan Anung Kecipratan Duit e-KTP
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Pengacara Made Oka Masagung, Bambang Hartono, menyatakan kliennya membantah pernyataan Setya Novanto dalam persidangan yang menyebutkan dana dari proyek Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) mengalir untuk Puan Maharani dan Pramono Anung masing-masing US$500 ribu.

"Kalau menurut klien saya yang pernyataan Setnov di muka pengadilan minggu yang lalu itu tidak benar dan itu juga sudah dibantah oleh yang bersangkutan," kata Bambang di gedung KPK, Jakarta, Senin (26/3/2018).

Bambang Hartono juga mengatakan, kliennya itu akan dikonfrontir dengan Setya Novanto dalam kasus tindak pidana korupsi pengadaan paket penerapan KTP berbasis nomor induk kependudukan secara nasional (KTP-E).

"Mungkin minggu depan dikonfrontir," kata Bambang yang juga mendampingi Made Oka yang baru selesai diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Irvanto Hendra Pambudi yang merupakan keponakan Setya Novanto dalam kasus korupsi e-KTP.

Menurut Bambang, rencana konfrontir antara Made Oka dengan Novanto akan dilakukan di gedung KPK.

"Di sini rencananya," ungkap Bambang.

Made Oka Masagung rekan Setya Novanto sekaligus pengusaha dan Irvanto Hendra Pambudi, keponakan Setya Novanto, merupakan dua tersangka baru kasus korupsi e-KTP.

Irvanto Hendra Pambudi diduga sejak awal mengikuti proses pengadaan e-KTP dengan perusahaannya yaitu PT Murakabi Sejahtera dan ikut beberapa kali pertemuan di ruko Fatmawati bersama tim penyedia barang proyek e-KTP. 

Ia juga diduga telah mengetahui ada permintaan "fee" sebesar lima persen untuk mempermudah proses pengurusan anggaran e-KTP.

Irvanto diduga menerima total US$3,4 juta pada periode 19 Januari hingga 19 Februari 2012 yang diperuntukkan kepada Novanto secara berlapis dan melewati sejumlah negara.

Sedangkan Made Oka Masagung adalah pemilik PT Delta Energy, perusahaan SVP dalam bidang "investment company" di Singapura yang diduga menjadi perusahaan penampung dana.

Made Oka Masagung melalui kedua perusahaannya diduga, menerima total US$3,8 juta sebagai peruntukan kepada Setya Novanto yang terdiri atas US$1,8 juta melalui perusahaan OEM Investment Pte.Ltd dari Biomorf Mauritius dan melalui rekening PT Delta Energy sebesar US$2 juta. 

Made Oka diduga menjadi perantara uang suap untuk anggota DPR sebesar lima persen dari proyek e-KTP.

Keduanya disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)