Home » Elektoral

Peneliti LIPI: Pilkada 2018 Akan Sama seperti Sebelumnya

print this page Sabtu, 13/1/2018 | 19:38

Peneliti LIPI, Prof Syamsuddin Haris. FOTO: RILIS.ID/Taufiq Saifuddin

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Syamsuddin Haris, meyakini, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 takkan berbeda dengan kontestasi elektoral sebelumnya. Sebab, masih diwarnai dengan praktik mahar politik dari kandidat kepada partai.

Dia menyatakan demikian, terkait pengakuan mantan bakal calon Gubernur Jawa Timur, La Nyalla Mattalitti, di mana mengklaim diminta Rp40 miliar oleh Ketua Umum DPP Gerindra, Prabowo Subianto. La Nyalla batal maju di Pilgub Jatim, karena Gerindra mengusung pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarnoputri.

"Jadi, ya (dengan kasus La Nyalla ini, red), Pilkada 2018 akan sama saja dengan setiap pilkada sebelumnya," ujarnya saat dihubungi rilis.id di Jakarta, Sabtu (13/1/2018).

Pernyataan itu, imbuh Syamsuddin, juga menunjukkan praktik politik uang sudah berlangsung sebelum tahapan Pilkada 2018 digelar. Namun, menurutnya, sulit menghindarinya pada sistem pemilihan langsung.

"Dalam pemilihan langsung seperti yang kita praktikkan di Pilkada 2018, itu tidak terhindarkan," tuntas dosen Universitas Nasional (Unas) Jakarta ini.

Sebelumnya, La Nyalla mengklaim, diminta uang oleh Prabowo terkait pencalonannya pada Pilgub Jatim. Dia pun berencana membawa masalah itu ke ranah hukum.

Tapi, pernyataan tersebut dibantah Gerindra. Kata Ketua DPP Gerindra, Ahmad Riza Patria, partainya tak pernah meminta mahar kepada bakal calon kandidat yang akan diusungnya pada pilkada. Dia mencontohkan dengan beberapa kasus sebelumnya.

Baca: La Nyalla Ngaku Setor Rp40 M, Ini Tanggapan Gerindra

Penulis Taufiq Saifuddin
Editor Fatah Sidik

Tags:

Pilkada 2018Syamsuddin HarisLIPILa Nyalla MattalittiMahar PolitikGerindra