logo rilis
Pendapat Ahli Kebencanaan soal Potensi Tsunami 57 Meter di Selat Sunda
Kontributor
Eroby JF
11 April 2018, 18:07 WIB
Pendapat Ahli Kebencanaan soal Potensi Tsunami 57 Meter di Selat Sunda
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Lilik Kurniawan mengatakan, permodelan potensi tsunami setinggi 57 meter di Selat Sunda yang disampaikan peneliti Widjo Kongko merupakan materi mentah.

"Iya benar. Itu masih 'raw material'," kata Lilik saat berbincang di sela klarifikasi mediasi ancaman tsunami Jawa Barat dan pernyataan sikap IABI di Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Kegiatan itu dihadiri perwakilan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), peneliti, akademisi, organisasi kemasyarakatan, media, kepolisian, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan nelayan.

Menurut Lilik, sebagai materi mentah, seharusnya itu menjadi naskah akademik yang nantinya diolah BMKG untuk kepentingan strategis.

"Seharusnya belum menjadi konsumsi publik karena akan memicu kepanikan warga," paparnya.

Lilik pun mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi materi kajian akademik dari para praktisi dan ahli, termasuk soal modeling tsunami 57 meter di perairan Banten.

Datangnya tsunami, ucapnya, belum dapat diperkirakan waktu dan lokasinya, sehingga kajian akademik dari Widjo Kongko itu sebaiknya tidak disikapi dengan kepanikan.

"Bagaimanapun pihak yang memiliki otoritas mengeluarkan peringatan bencana gempa dan tsunami adalah BMKG," ujarnya.

Terkait kajian akademik Widjo Kongko, Lilik tidak dapat berkomentar banyak karena belum menelisik lebih dalam mengenai penelitian permodelan ancaman tsunami 57 meter tersebut.

Dia mengatakan, IABI segera melakukan kajian mendalam terhadap penelitian Widjo untuk selanjutnya mengeluarkan pernyataan sikap dalam waktu dekat.

Maka dari itu, masyarakat diminta untuk hanya mempercayai perihal peringatan dini tsunami dari BMKG.

"Semua potensi mengenai tsunami, info resmi dari BMKG bukan dari pihak lain," kata dia.

Persoalan tsunami 57 meter di Selat Sunda sempat menghebohkan warga di banyak tempat, salah satunya di Pandeglang. Warga menjadi resah akibat viralnya info tersebut sehingga ditengarai menjadi pemicu lesunya aktivitas nelayan dan ekonomi di salah satu pesisir di Banten itu.

Banyak nelayan di Pandeglang menjadi khawatir melaut karena informasi tsunami tersebut. Aktivitas pariwisata juga lesu karena kabar tersebut akibat warga banyak berkesimpulan bahwa kajian dari Widjo Kongko itu sebagai peringatan tsunami.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)