logo rilis

Pencarian Lion Air Dihentikan, Layanan Terapi Hiperbarik Tetap Berjalan
Kontributor
Ning Triasih
12 November 2018, 17:06 WIB
Pencarian Lion Air Dihentikan, Layanan Terapi Hiperbarik Tetap Berjalan
Evakuasi turbin pesawat Lion Air JT 610. FOTO: Twitter

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Bidang Identifikasi Korban Bencana (DVI) RS Polri Sukanto Kramat Jati, Jakarta Timur, Komisaris Besar Polisi Lisda Cancer mengatakan, layanan terapi hiperbarik tetap dibuka untuk para penyelam meski proses evakuasi pesawat Lion Air PK-LQP JT 610 telah dihentikan secara terpusat sejak Sabtu (10/11/2018) kemarin.

"Layanan terapi hiperbarik masih dibuka, tergantung dari rekan-rekan penyelam," kata Kombes Pol Lisda di Gedung Sentra Visum dan Medikolegal RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (12/11/2018) seperti dikutip dari ANTARA.

Ketua tim DVI itu menjelaskan, hingga hari ini, sebanyak 38 penyelam telah menjalani terapi hiperbarik di RS Polri Tingkat I Raden Said Sukanto. Dari jumlah itu, 32 di antaranya merupakan penyelam Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Mabes Polri, dan enam sisanya merupakan relawan.

RS Polri Tingkat I Raden Said Sukanto Kramat Jati telah membuka layanan hiperbarik ke para penyelam dari tingkat TNI dan Polri serta relawan. Layanan yang dibuka sejak proses evakuasi dan pencarian pesawat dimulai pada 29 Oktober di Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat ini tak dipungut biaya sama sekali.

Terapi hiperbarik diberikan kepada para penyelam demi mencegah penyakit dekompresi yang mungkin menyerang selama aktivitas di bawah permukaan laut.

Penanggung jawab Instalasi Hiperbarik RS Polri Tingkat I Raden Said Sukanto Kramat Jati AKBP dr Karjana menyebut, dekompresi biasanya terjadi jika penyelam turun dan naik ke permukaan secara mendadak. Kadar nitrogen dalam darah akan berikatan dengan gas dan menyumbat pembuluh darah dan yang fatal, bisa menyumbat organ dalam.

Bahayanya, jika sudah tersumbat, penyelam bisa meninggal secara mendadak. AKBP dr Karjana melanjutkan, terapi hiperbarik merupakan prosedur standar yang harus dilalui oleh penyelam, sebelum atau sesudah melakukan kegiatan di bawah permukaan laut.

Prosedur standar itu, menurutnya, telah disepakati oleh dokter spesialis kelautan yang berpusat di RS Angkatan Laut Mintohardjo.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)