logo rilis
Pemuda Sebut Industri di Asia Lakukan Praktek Perbudakan Modern
Kontributor
Syahrain F.
28 Maret 2018, 21:27 WIB
Pemuda Sebut Industri di Asia Lakukan Praktek Perbudakan Modern
Ilustrasi pekerja industri pakaian. FOTO: Schroders

RILIS.ID, Bangkok— Sekelompok anak muda Asia saat ini tengah bergiat melakukan kampanye di media sosial yang berisi ajakan untuk mempertimbangkan membeli produk-produk dari perusahaan yang mereka sebut praktek "perbudakan modern".

Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan kelompok amal Walk Free Foundation, sekitar 40 juta orang di seluruh dunia terjebak praktek perbudakan dan sebagian besar berada di Asia.

Meningkatnya daya beli di Asia juga telah mendorong permintaan terhadap tenaga murah di pabrik-pabrik yang memproduksi garmen di Bangladesh, hingga sepatu di Kamboja dan Vietnam.

Para konsumen muda saat ini diminta agar ikut menekan pihak pengusaha agar menghentikan eksploitasi terhadap pekerja dalam kampanye yang disebut "Tahukah Anda siapa yang membuatnya?" yang diluncurkan di Bangkok, Selasa (27/3/2018).

Kelompok tersebut mendapat dukungan dari International Organization for Migration (IOM) dan United States Agency for International Development (USAID).

"Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apakah produk ini penting buat kita?" kata Kamonnart Ongwandee (26), seorang perancang fesyen.

Sementara itu Surabot Leekpai membuat rekaman video yang memperlihatkan bagaimana kaos dengan slogan "Happy" diproduksi di pabrik dengan upah murah dan video tersebut mengundang lebih dari lima juta pengikut di Youtube.

"Sebelum semua produk itu sampai ke tangan kita, terdapat banyak cerita di baliknya," kata Surabot, bintang Youtube berusia 30 tahun yang lebih populer dengan nama Pleum itu.

Menurut laporan ILO, keuntungan yang diperoleh dari upah rendah di Asia, termasuk dari sektor manufaktur, secara keseluruhan mencapai US$52 miliar per tahun.

Para pekerja di sektor manufaktur tersebut bekerja dengan jam kerja lebih panjang, upah rendah, hidup dibawah standar kelayakan dan dokumen pribadi mereka ditahan majikan agar tidak meninggalkan pekerjaan.

"Tidak jarang kondisi mereka tidak lebih baik dibanding saat mereka mulai bekerja," kata Tara Dermott, ketua program IOM X.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)