logo rilis
Pemprov DKI Diminta Perbaiki Fasilitas Samsat dan Jalan
Kontributor
Fatah H Sidik
21 Maret 2018, 23:53 WIB
Pemprov DKI Diminta Perbaiki Fasilitas Samsat dan Jalan
Sepeda motor kembali melintasi Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, 10 Januari 2018, usai Mahkamah Agung membatal Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 195 Tahun 2014 tentang Pembatasan Lalu Lintas Sepeda Motor. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta diminta memperbaiki fasilitas Samsat Polda Metro Jaya dan jalanan yang rusak akibat hujan. Soalnya, kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) hampir 50 persen dari pendapatan asli daerah (PAD) Jakarta.

"Dari Rp34,4 triliun PAD Jakarta di tahun 2017, Samsat Polda memberi kontribusi Rp12,9 triliun. Dengan perincian, pemasukan dari PKB sebesar Rp7,9 triliun dan bea balik nama kendaraan bermotor Rp5 triliun," ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, via siaran pers yang diterima rilis.id di Jakarta, Rabu (21/3/2018).

Katanya, nilai tersebut lebih tinggi dibanding PAD dari pajak hiburan. Apalagi, di diskotek sering ditemukan narkoba dan tak jarang menjadi tempat transaksi.

"Tapi dengan alasan pemasukan bagi PAD, tempat hiburan tersebut sangat sulit untuk ditutup," sesalnya. Dari 1.218 tempat hiburan malam di Jakarta, berdasarkan data IPW, pajak yang diperoleh cuma Rp2,5 triliun.

Pemasukan pajak paling rendah lainnya di Jakarta, adalah hotel. Bahkan, sulit ditagih. Begitu juga dengan parkir. Perolehan pajak dari parkir tak sebanding dengan jumlah kendaraan bermotor 3,3 juta unit. "Tiap tahun rata-rata hanya Rp3 triliun," jelasnya.

Menurut Neta, orang-orang kaya di Jakarta tergolong malas membayar pajak, terutama mobil-mobil mewah. Karenanya, Pemprov DKI hendaknya bekerja sama dengan Polda Metro Jaya untuk memburu mereka. "Mobil-mobil mewah mereka yang tidak bayar pajak harus ditilang," usulnya.

Begitu juga dengan pajak dan penghasilan dari parkir, perlu diburu secara intensif. Sebab, masih banyak "kebocoran". Dia mencontohkan dengan kasus di sejumlah pasar yang dikelola PD Pasar Jaya.

"Sore hingga malam hari mesin parkir sengaja dimatikan. Oknum petugas parkir, lalu memakai cara manual dan patut diduga hasilnya masuk ke kantong oknum," tutup Neta.


500
komentar (0)