logo rilis
Pemilu Diharap Tak Bikin Massa Ricuh, Begini Solusinya
Kontributor

14 Agustus 2018, 09:35 WIB
Pemilu Diharap Tak Bikin Massa Ricuh, Begini Solusinya
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Analis politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Teguh Yuwono meminta, semua elemen bangsa memiliki komitmen untuk menjaga situasi kondusif, bukan cuma di tataran elite saja.

"Semua harus punya komitmen untuk menjaga situasi agar kondusif, tidak hanya ditataran pemerintahan atau partai politik saja," kata Teguh di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah di Semarang pada Senin, 13 Agustus kemarin.

Karena itu, ia menyebut pentingnya pendidikan politik di seluruh tataran. Jadi, jangan hanya para elite saja yang duduk bersama. Tapi, logika publik tidak dipikirkan.

"Secara logika, elite memang bisa duduk adem ayem bersama, tapi logika massa bagaimana?" tambahnya.

Ia juga meminta partai politik (parpol) membuka diri untuk menerima kritik yang berguna bagi perkembangan partai itu sendiri, termasuk dampak positif bagi masyarakat.

Sementara Ketua KPU Jawa Tengah, Joko Purnomo, menuturkan peran pedia sosial dan media massa yang harus dioptimalkan untuk keperluan pendidikan politik ini.

Kata dia, media sosial sering digunakan sebagai sarana kampanye dengan konten-konten negatif. Lalu, media massa juga terkadang jangan cuma mementingkan judul-judul "bombastis" saja.

"Sejak 2014 sampai sekarang saya lihat, modal kampanye lewat medsos atau media mainstream," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut bisa diminimalisasi dengan syarat semua pihak bergerak dan mempunyai rasa tanggung jawab untuk memberikan pendidikan politik yang baik.

"Pendidikan politik yang bagus lewat mana, ya lewat dunia pendidikan," katanya.

Sedangkan Sekretaris DPD Partai Gerindra Jawa Tengah, Sriyanto Saputro, optimistis provinsi ini akan tetap kondusif selama gelaran pemilu.

Ia menyoroti pendidikan politik yang dilakukan oleh internal partai politik.

"Pendidikan politik kami lakukan, termasuk di internal. Misalnya, pengetahuan tentang media sosial dan Undang-undang ITE yang bisa berkonsekuensi pidana," tambahnya.

Sumber: ANTARA




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID