logo rilis
Pemerintah Remajakan Sawit Rakyat
Kontributor
Kurniati
10 Mei 2018, 04:00 WIB
Pemerintah Remajakan Sawit Rakyat
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Riau— Pengembangan kelapa sawit di Indonesia sampai saat ini telah memberikan peranan yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia.

Dari perkebunan kelapa sawit yang luasannya saat ini lebih dari 14 juta hektare, 40 persennya diusahakan oleh perkebunan rakyat.

Pengusahaan kelapa sawit saat ini berhasil menyerap lebih dari 8,2 juta orang yang terdiri dari tenaga kerja sawit rakyat, karyawan perusahaan perkebunan, tenaga kerja supplier.

Bahkan, Presiden RI, Joko Widodo berharap terjadi peningkatan kinerja untuk mempercepat pencapaian target peremajaan sawit rakyat, termasuk mencarikan solusi terhadap hambatan-hambatan yang ada.

"Saya minta kepada seluruh pekebun, semangat bekerja semuanya. Kemudian juga semangat memelihara sehingga dapat terwujud pembangunan kebun kelapa sawit yang berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan, agar tidak hanya luasan yang terbesar tetapi produktivitas tinggi sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri serta menguasai pangsa pasar dunia," katanya saat Program Peremajaan (replanting) Sawit Rakyat di Riau Rabu (9/5/2018).

Presiden Jokowi berharap, Program Peremajaan Sawit Rakyat dapat terlaksana dengan baik di seluruh provinsi penghasil kelapa sawit. 

Karena, lanjutnya, akan berdampak pada total produksi kelapa sawit secara nasional dan kesejahteraan masyarakat.

"Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia dan bersama-sama dengan Malaysia saat ini menguasai sekitar 85 persen produksi minyak kelapa sawit dunia," kata orang nomor satu di Indonesia ini.

Kebutuhan minyak nabati dunia saat ini, lebih dari 50 persen bersumber dari minyak kelapa sawit, sedangkan sisanya berasal dari minyak rape seed, bunga matahari, kedelai, minyak kelapa, kacang tanah, bunga matahari dan minyak biji kapas.

Sedangkan nilai ekspor yang dihasilkan dari produk kelapa sawit pada tahun 2017 mencapai US$22,9 miliar atau sekitar Rp311,4 trilyun. Bahkan, menjadi komoditi ekspor terbesar bagi Indonesia.

Untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan peningkatan produksi melalui peremajaan, maka pada kesempatan ini perlu segera dilaksanakan hal-hal sebagai berikut :

1. Segera melaksanakan peremajaan kelapa sawit untuk tetap menjaga stabilitas produksi nasional

2. Mendukung pelaksanaan peremajaan kelapa sawit, melalui pendanaan melalui dana pungutan ekspor CPO yang dikelola BPDP-KS, kredit program KUR dengan bunga 7 persen dengan grace period serta kredit perbankan

3. Selain dukungan pendanaan, diperlukan juga dukungan integrasi kebijakan dari stakeholder perkebunan khususnya dari aspek pendampingan oleh Pemerintah Daerah, sumber pendapatan lain sebelum tanaman menghasilkan, pemenuhan biaya lanjutan pemeliharaan, kerja sama kemitraan yang saling menguntungkan

4. Target peremajaan kelapa sawit akan dilaksanakan di seluruh provinsi penghasil kelapa sawit secara bertahap. Tahun 2018 ditargetkan peremajaan kelapa sawit rakyat seluas 185.000 hektare 

5. Untuk memberikan efektifitas peremajaan, pemerintah mendorong agar pelaksanaan peremajaan menggunakan pola tumbang serempak, memanfaatkan tanaman sela khususnya pada periode tanaman belum menghasilkan (TBM) dengan tanaman pangan dan memanfaatkan kayu hasil peremajaan.

6. Pembangunan perkebunan kelapa sawit dihadapkan pada berbagai isu negatif yang berkaitan dengan lingkungan, antara lain menurunnya keanekaragaman hayati, penyebab degradasi lahan dan deforestasi, penyebab emisi gas rumah kaca, kebakaran dan sebagainya. Isu-isu tersebut tentunya perlu disikapi dengan arif dan harus dibuktikan bahwa pembangunan perkebunan di Indonesia sudah mengikuti peraturan di Indonesia, dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
 


500
komentar (0)