logo rilis
Pemanfaatan Padi Gogo untuk Lahan Sulit Air, Jadi Solusi Warga Desa Ciapus
Kontributor
Elvi R
15 Oktober 2020, 19:04 WIB
Pemanfaatan Padi Gogo untuk Lahan Sulit Air, Jadi Solusi Warga Desa Ciapus
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Bogor— Sulitnya mendapatkan sumber air menjadi salah satu kendala yang dialami petani dalam mengembangkan padi sawah. Untuk itu, seorang petani bernama Pandu dari Desa Ciapus, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor memilih untuk menanam padi gogo di lahan satu hektar miliknya.

“Kontinuitas air di tempat saya tidak stabil, dan kualitas air yang ada tidak seperti air irigasi melainkan saluran rumah tangga sehingga tidak cocok untuk padi sawah”, ujar Pandu saat menerima benih padi di Kantor BB Biogen, Bogor, beberapa waktu yang lalu.

Adapun varietas yang dimanfaatkan Pandu adalah padi gogo Bio Patenggang dan Bio Bestari. Dua varietas tersebut merupakan produk Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang masing-masing dilepas sebagai varietas unggul baru (VUB) pada 2018 dan 2020.

Pandu bercerita, ia merupakan petani buah dan sayuran yang memiliki keinginan kuat untuk menanam komoditas padi. Penanamannya pun akan dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman pisang.

Jika percobaan yang dilakukan berhasil hingga panen nanti, petani yang memiliki konsep integrated farming ini tidak hanya ingin memanfaatkan berasnya saja, tapi juga jerami dan sekam untuk kebutuhan di lahan buah dan sayurnya.

“Jeraminya nanti akan saya jadikan sebagai mulsa organik. Sementara sekamnya akan saya jadikan pestisida organik,” tegasnya.

Sebagai informasi tambahan, padi Bio Patenggang merupakan varietas turunan esensial dari varietas Situ Patenggang yang telah diterima dengan baik oleh petani, khususnya di Jawa Barat. Bedanya dengan situ patenggang, bio patenggang memiliki kelebihan berupa ketahanannya terhadap penyakit blas.

“Jika dilihat dari segi produksi, bio patenggang lebih menguntungkan karena pengendalian hama dapat dilakukan secara organik sehingga tidak perlu menggunakan pestisida yang saat ini dirasakan mahal oleh petani,” jelas Peneliti Balitbangtan, Dr. Dwinita Wikan Utami pada beberapa waktu lalu.

Sementara Biobestari memiliki keunggulan produktivitas rata-rata 5,8 ton per hektare dan potensi hasil sekitar 7,5 ton per hektare. Selain produktivitas dan potensi hasil yang tinggi, VUB ini juga tahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB), tahan penyakit blas, toleran terhadap keracunan aluminium serta toleran kekeringan. 

Sumber: AB/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID