Home » Ragam

Pemahaman Masyarakat Olahraga tentang Doping Masih Terbatas

print this page Kamis, 7/12/2017 | 12:28

Direktur Analisis Sampel Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI), Dr dr Junaidi, Sp. KO (kanan) pada Sosialisasi anti doping yang dilaksanakan di Larantuka, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tanggal 5-6 Desember 2017. FOTO: Asdep Peningkatan Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Kemenpora

RILIS.ID, Jakarta— Pengetahuan masyarakat olahraga terhadap doping masih sangat terbatas. Ketidaktahuan itu tercermin dalam banyaknya pertanyaan mendasar yang muncul tentang apa itu doping dalam sosialisasi anti doping di Flores Timur, kata Direktur Analisis Sampel Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI), Dr dr Junaidi, Sp. KO. 

Kegiatan sosialisasi anti doping ini dilaksanakan LADI bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga atau Kemenpora di Larantuka, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tanggal 5-6 Desember 2017. 

Kegiatan sosialisasi ini merupakan salah satu upaya LADI agar masyarakat olahraga lebih memahami tentang doping. 

"Sangat disadari bahwa pemahaman terhadap doping masih sangat terbatas. Perlu upaya lebih banyak dan masif untuk edukasi dan sosialisasi ke masyarakat,  khususnya masyarakat olahraga," ujar dr Junaidi dalam keterangannya, Kamis (7/12/2017). 

Dalam paparannya, dr Junaidi menyatakan pentingnya para pelatih dan pengurus KONI memahami apa itu doping, sehingga dapat menghindarkan atlet dari kemungkinan terkena doping.  

Selain itu, para pelaku olahraga juga harus memahami proses dan mekanisme pengawasan anti-doping oleh LADI.

Lantaran kurangnya pemahaman, kata Junaidi, tidak jarang terjadi hambatan pada pelaksanaan pengawasan doping melalui pengambilan sampel kepada atlet. 

Salah satunya adalah proses pengambilan sampel pada atlet yang terhambat oleh beberapa pihak terkait seperti pengurus,  pelatih atau ofisial lainnya.   

Padahal, peraturan Badan Anti Doping Dunia (WADA) dan LADI menyatakan bahwa "Penolakan pengambilan sampel kepada atlet,  otomatis seorang atlet tersebut dinyatakan positif doping".

Penulis Syahrul Munir

Tags:

LADILembaga Anti Doping IndonesiaWADABadan Anti Doping DuniaKemenpora