logo rilis

Pedagang Pasar Kemiri Dua Depok Adukan Nasib ke DPD
Kontributor
Yayat R Cipasang
24 Mei 2018, 22:03 WIB
Pedagang Pasar Kemiri Dua Depok Adukan Nasib ke DPD
Paguyuban Pedagang Pasar Kemiri Dua Depok mengadukan masalah konflik lahan pasar ke DPD RI. FOTO: Humas DPD

RILIS.ID, Jakarta— Paguyuban Pedagang Pasar Kemiri Dua Depok mengadukan masalah konflik lahan yang terjadi antara Pemerintah Kota Depok dan PT Petamburan Jaya Raya Badan Akuntabilitas Publik (BAP) DPD RI. Konflik bisa menyebabkan ribuan pedagang pasar digusur. 

Ketua Paguyuban Karno memohon bantuan DPD agar Mahkamah Agung menunda eksekusi dan meminta Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional untuk menjadikan lahan pasar menjadi milik negara. 

“Semoga DPD bisa membantu kami agar aset negara tidak jatuh ke tangan swasta, kami juga berharap agar eksekusi tidak dilakukan karena kami sudah 30 tahun berdagang di pasar tersebut,” ungkap Karno di Gedung DPD RI, Jakarta, Kamis (24/5/2018).

Senator Provinsi Jawa Barat Ayi Hambali menjelaskan awalnya lahan tersebut adalah milik rakyat dan dibebaskan oleh PT Petamburan Jaya Raya dengan syarat akan dikembalikan ke negara. Kini, waktu penguasaan oleh PT Petamburan telah habis dan pihak BPN tidak mau memperpanjang. 

Kemudian PT Petamburan membawa masalah ini ke pengadilan. Namun Pemerintah Kota Depok selalu kalah hingga ke Mahkamah Agung. Ayi mengatakan bahwa keinginan rakyat adalah agar Peninjauan Kembali (PK) MA sebagai keputusan non eksekutorial. 

“Sudah 3 kali akan dieksekusi setiap kali mau Lebaran. Ini tidak bisa kita biarkan friksi seperti ini, jadi harus diatasi karena menyangkut nasib mencapai 5.000 pedagang,” jelas Ayi. 

Ketua BAP Abdul Gafar Usman mengatakan DPD akan mengambil langkah pertama dengan menggali informasi dari Pemprov Jawa Barat, Pemkot Depok, dan PT Petamburan Jaya Raya. 

”Setelah semua informasi terkumpul, apakah itu pertemuannya disini (DPD-red) atau kami yang ke Depok, baru kita berbicara khusus dengan Menteri Agraria,” ujar Abdul Gafar.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)