logo rilis

PDIP dan Pertarungan Matador
Kontributor
RILIS.ID
06 Juni 2018, 13:31 WIB
PDIP dan Pertarungan Matador

Oleh Silvanus Alvin, S.I.Kom., M. A.

Dosen Universitas Bunda Mulia

HAMPIR sebulan terakhir, PDIP jadi sorotan publik. Serangan politik bertubi-tubi dilayangkan pada partai penguasa itu. Mulai dari kader-kadernya hingga ketua umumnya tidak luput dari sasaran tembak. Saya mengibaratkan PDIP seperti banteng moncong putih yang memasuki arena adu bersama matador. Pertarungan hidup atau mati.

Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, ada beberapa kasus yang telah saya rangkum. Pertama, PDIP disebut partai terkorup oleh politisi Gerindra Andre Rosiade. Kedua, Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dikritik terkait besaran gajinya di badan tersebut. Ketiga, aksi protes tak elok yang ditunjukkan oleh kader PDIP akibat pemberitaan di Radar Bogor.

Serangan politik tersebut menunjukkan Pemilu 2019 sudah di depan mata. Ada upaya-upaya untuk melemahkan partai berlambang banteng moncong putih. Upaya itu berwujud dalam kampanye negatif, sebuah strategi dengan mengirimkan pesan negatif kepada lawan politik (bisa individu dan atau partai) yang dapat memengaruhi keputusan pemilih dengan hak suara sah.

Pesan yang bernuansa negatif lebih mudah untuk diserap oleh khalayak. Hal ini kemudian diadopsi dalam penerapan komunikasi politik menjadi kampanye negatif. Di sisi tertentu, kampanye negatif bisa dilihat secara positif dalam memberikan informasi dari sudut pandang lain sebagai bahan pertimbangan public dalam menggunakan hak suara mereka. Pada umumnya, pihak yang menggunakan kampanye negatif berasal dari penantang. Mereka menggunakan cara ini untuk menggeser pihak yang sedang berkuasa.

PDIP saat ini tengah berkuasa setelah dua periode di era Presiden SBY menjadi oposisi. Bagaimana respons PDIP menghadapi kampanye negatif yang bertubi-tubi, akan menentukan masa depan serta posisi politik mereka mendatang.

Nah, apa ide utama dari kampanye negatif yang dimainkan pihak penantang? Saya senang Anda bertanya. PDIP dikenal sebagai partainya wong cilik. Presiden Jokowi yang didukung PDIP pun dianggap merakyat karena suka blusukan. Hal inilah yang diserang. Penantang ingin agar publik tidak lagi melihat bahwa PDIP sebagai partainya wong cilik.

PDIP dituding partai terkorup, bisa saja muncul di benak publik kok partai yang pro rakyat mencuri uang rakyat, gaji Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP yang dilaporkan pertama kali oleh Radar Bogor mencapai ratusan juta, bisa menimbulkan kesan pemborosan uang rakyat; Dan, aksi protes yang kurang elok ditunjukkan kader PDIP atas pemberitaan gaji Megawati juga tidak mungkin mendatangkan simpati dari rakyat.

Bila PDIP terpancing dengan serangan kampanye negatif, maka partai tersebut bak banteng yang terpicu amarahnya ketika melihat matador mengibaskan muleta atau kain berwarna merah untuk mengecoh banteng. Andai banteng menyerang membabi buta, sang matador dapat melakukan faena atau gerakan menghindar dari tanduk banteng. Pada akhirnya, banteng yang kelelahan dapat ditusuk dengan mudah oleh banderila atau tombak kecil.

Oleh karena itu, perlu kehati-hatian PDIP dalam merespons kampanye negatif. Saya rasa, PDIP perlu menggunakan strategi ‘korban’ atau plays as victim. Seringkali tokoh dan atau partai politik merespons dengan menggunakan strategi ‘korban’. Mereka menunjukkan betapa dirinya tersiksa akibat serangan lawan politik. Dalam batasan tertentu, memang hal ini dapat mendulang simpati dan empati. Pihak penantang pun bisa terlena untuk terus mengirimkan pesan negatif kepada pihak lawan, dan lupa untuk membangun hubungan baik dengan suara pemilih sah.

Kembali ke perumpamaan sejenak. PDIP bisa menjadi banteng yang mengecoh matador. Terlihat tak berdaya, tapi ketika matador mendekat untuk memberikan tusukan terakhir, banteng langsung menerjang dengan tanduknya.

Berperan sebagai korban ketika diterpa serangan kampanye negatif, juga dapat membantu meningkatkan solidaritas dari kader-kader PDIP sendiri. Sebab, kader PDIP juga akan merasa bahwa posisi partai mereka sangat strategis sehingga penantang melakukan kampanye negatif untuk menurunkan mereka. Akibatnya, mereka akan makin bersatu karena serangan dari pihak penantang membangkitkan rasa persatuan dan menstimuli semangat untuk makin memenangkan Pemilu mendatang.

Seandainya PDIP menerapkan strategi ini, bukan berarti mereka terus menerus menerima begitu saja serangan kampanye negatif. Perlu juga partai berlambang banteng itu melakukan serangan balik. Serangan balik di sini bukan dengan mengirimkan pesan negatif pula pada lawan. Terkait dengan pemberitaan PDIP disebut partai terkorup, Ketua DPP PDIP Hamka Haq menyeret partai lain. Ia menyebut PKS, PPP, dan Demokrat juga pernah terlibat korupsi.

Langkah itu bukan serangan balik yang baik. Seharusnya, Hamka Haq melakukan counter-imaging atau menunjukkan keberhasilan atau pencapaian PDIP dalam memerangi korupsi. Pernyataan itu akan memperkeruh suasana dan PDIP akan makin dirugikan.

Dalam periode saat ini hingga minggu tenang sebelum pemilihan, PDIP akan terus jadi sasaran tembak kampanye negatif. Seperti pepatah bijak berkata, ”Lebih mudah menang daripada mempertahankan kemenangan itu. ”Mari kita lihat bagaimana PDIP menghadapi bertubi-tubi serangan kampanye negatif. Apakah sang banteng bisa mengecoh matador? Ole…


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)