logo rilis
PBB Ajukan Dana Kemanusiaan untuk Atasi Krisis Yaman
Kontributor
Syahrain F.
04 April 2018, 23:15 WIB
PBB Ajukan Dana Kemanusiaan untuk Atasi Krisis Yaman
Gedung PBB. FOTO: PBB/Steven Bornholtz

RILIS.ID, Jenewa— Negara-negara pendonor mengajukan dana lebih dari US$2 miliar untuk bantuan kemanusiaan ke Yaman, kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam konferensi di Jenewa, Selasa (3/4/2018).

Jumlah permohonan dana tersebut meningkat hampir 50 persen atau sebesar US$1,1 miliar dari tahun lalu. Rencana Tanggap Kemanusiaan 2018 untuk Yaman membutuhkan US$2,96 miliar untuk menjangkau lebih dari 13 juta orang di seluruh negeri.

Salah satu negara pendonor terkaya, Arab Saudi, telah membatasi akses kemanusiaan di Yaman, sambil menyalurkan dukungan dana ke PBB untuk bantuan kemanusiaan ke Yaman. Mengenai tindakan kontradiktif Arab Saudi tersebut, Guterres mengatakan bahwa dua hal itu perlu dilihat secara terpisah.

Pada 2015, Arab Saudi dan sekutunya melancarkan kampanye militer besar-besaran untuk menggulingkan Houthi dan menyokong pemerintah Yaman yang didukung Saudi.

Menurut Guterres, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah menyediakan US$930 juta dan berjanji untuk menyumbang dana tambahan sebesar US$500 juta. Sementara negara lainnya sejauh ini telah mengumpulkan US$293 juta, yang artinya 40 persen dari jumlah dana yang dibutuhkan telah tersedia.

Dalam konferensi tersebut, Guterres meminta negara-negara pendonor untuk menyediakan dana sekitar US$3 miliar.

Guterres juga mendesak pihak-pihak yang saling bertikai di Yaman untuk menyelesaikan masalah.

"Krisis kemanusiaan yang melanda Yaman adalah yang terburuk di dunia. Ketika konflik memasuki tahun keempat, lebih dari 22 juta orang--tiga perempat dari populasi--membutuhkan bantuan dan perlindungan kemanusiaan," ungkap dia.

"Kita harus segera bertindak untuk mengakhiri konflik. Sebuah penyelesaian politik yang dinegosiasikan melalui dialog intra-Yaman yang inklusif adalah satu-satunya solusi. Saya mendesak semua pihak untuk terlibat dengan Utusan Khusus saya, Martin Griffiths sesegera mungkin," tegas Guterres.

Guterres menegaskan, semua pelabuhan harus tetap dibuka untuk jalur kargo kemanusiaan dan komersil, dan bantuan kemanusiaan harus sampai ke orang-orang yang paling membutuhkan, tanpa terkecuali.

"Badan-badan bantuan kemanusiaan dan mitra mereka membutuhkan akses penuh dan tanpa syarat kapan saja, namun badan kemanusiaan melaporkan bahwa akses ke 90 persen distrik di Yaman terhambat," tambahnya.

Sumber: Anadolu Agency


500
komentar (0)