logo rilis

Pathek Lenyap, Cabai Awet
Kontributor
Elvi R
17 April 2018, 10:52 WIB
Pathek Lenyap, Cabai Awet
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— "Yang belum ada solusinya itu (adalah) penyakit pathek. Sampai sekarang petani gak bisa apa-apa kalo kena itu”, cerita salah satu pedagang pengumpul sekaligus pengepak cabai di Magelang. 

Penyakit antraknosa atau yang sering disebut pathek merupakan masalah yang telah lama menghantui petani cabai. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici. Jamur itu sangat sering menjadi wabah pada musim penghujan, namun kejadian di musim kemarau juga bukan tidak mungkin.

Lebih gawat lagi, pathek sangat mudah menular. Cabai yang berpenyakit pathek akan menulari cabai lainnya sepanjang proses distribusi. Walaupun pengumpul/pengepak telah melakukan sortasi, penyakit ini tetap kerap ditemui dan merupakan salah satu penyebab utama kehilangan hasil (losses) cabai.

Kehilangan hasil (losses) pascapanen cabai diperkirakan mencapai 20-30 persen, dan merupakan salah satu penyebab fluktuasi harga yang ekstrem. Hal ini menjadi perhatian khusus Negara-Negara ASEAN, sehingga menjadi latar belakang inisiasi kegiatan ASEAN Cooperation Project: Reduction of Postharvest Losses for Agricultural Produces and Products (ASEAN PHL-R).

ASEAN peduli cabai

Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen) bekerja sama dengan PT. Agro Indo Mandiri (PT. AIM) telah melakukan uji coba implementasi teknologi penurunan kehilangan hasil cabai sebagai bagian dari ASEAN PHL-R. Hasil kegiatan ini nantinya akan didiseminasikan dan diadopsi oleh negara ASEAN lain.

Survei dan Focus Group Discussion yang dilakukan dalam kegiatan ASEAN PHL-R menunjukkan, semakin panjang rantai pasok, semakin tinggi losses yang akan terjadi. Kemasan yang dipakai dan metode transportasi yang digunakan juga ikut menyumbang jumlah losses, selain penyakit pathek.

Salah satu teknologi utama yang diimplementasikan dalam kegiatan ASEAN PHL-R adalah teknologi ozon. Teknologi ozon diterapkan dalam proses pencucian cabai di pengumpul/pengepak, sebelum cabai dikemas untuk didistribusikan. Ozonisasi menjadi penting karena dapat meminimalkan pertumbuhan mikroorganisme perusak cabai, termasuk pathek. Selain itu, ozon juga efektif mengurangi residu pestisida dan menjaga kesegaran cabai selama penyimpanan.

Untuk mendapatkan penurunan kehilangan hasil yang optimal, implementasi teknologi yang dilakukan dalam kegiatan ASEAN PHL-R tidak hanya ditujukan pada penekanan penyakit pathek. BB-Pascapanen bersama PT. AIM telah melakukan uji coba implementasi teknologi pada titik-titik kritis rantai pasok cabai, dari Magelang, Jawa Tengah sampai Jakarta dan Tangerang. Rantai pasok yang digunakan pun telah dirancang untuk efisiensi dan penurunan losses. Hasil panen dari petan di Magelang dikirim ke pengumpul pengepak, lalu langsung didistribusikan ke pasar induk di Jakarta dan Tangerang.

Teknologi yang diimplementasikan antara lain panen dengan panduan Bagan Warna Cabai, pengangkutan ke pengumpul/pengepak menggunakan krat sebagai pengganti karung plastik bekas pupuk, pencucian dengan ozon, pengemasan menggunakan kardus berperforasi dan transportasi ke pasar induk menggunakan mobil berpendingin. 

Hasil implementasi teknologi menunjukkan hasil yang menjanjikan. Cabai lebih segar secara kasat mata, dan sangat sedikit yang rusak akibat gangguan mikroorganisme seperti antraknosa. Teknologi ozon yang diterapkan berhasil menurunkan infestasi jamur Colletotrichum capsici. Berbeda dengan cabai yang menggunakan praktek penanganan konvensional, dimana masih ditemukan cukup banyak cabai berpenyakit. Dikombinasikan dengan teknologi lainnya dalam paket teknologi ini, manfaat teknologi ozon akan terus diteliti dan dikembangkan oleh BB-Pascapanen dalam upaya menurunkan kehilangan hasil pascapanen cabai.

Sumber: (Evi Savitri Iriani/Balitbangtan)


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)