logo rilis

Pascapertemuan Trump-Kim, Mantan Panglima Ini Jadi Ingat Ketegangan Indonesia-Malaysia
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
14 Juni 2018, 11:20 WIB
Pascapertemuan Trump-Kim, Mantan Panglima Ini Jadi Ingat Ketegangan Indonesia-Malaysia
Ilustrasi kesiapan perang TNI AD. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Kepala Staf Presiden (KSP), Moeldoko menilai, pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Pimpinan Korea Utara Kim Jong Un di Singapura sebagai langkah kemajuan bagi perdamaian dunia.

Menurutnya, peristiwa tersebut adalah momentum yang sangat bersejarah dan Kim menghentikan program nuklirnya, harus dihargai.

"Bagi sebuah negara, yang perlu kita lihat adalah niatnya," kata Moeldoko di Jakarta, belum lama ini.

Dalam politik luar negeri, kata dia, niat sebuah negara adalah hal yang sangat perlu diperhitungkan. Misalnya, untuk perdamaian atau tujuan menginvasi negara lain.

"Ketika mau berperang, niat itu yang perlu kita kenali," ujarnya.

Ketika masih aktif menjadi Panglima TNI, ia menceritakan bahwa dirinya pernah menghadiri pertemuan di AS. Waktu itu, Indonesia diminta turut aktif menjaga keamanan, akibat aktivitas pengayaan nuklir di semenanjung Korea.

"Karena harus diakui, pengembangan senjata nuklir Korea Utara ini berimplikasi pada psikologis negara-negara tetangganya," ungkap Moeldoko.

Setelah mengenali niat sebuah negara, sambung Moeldoko, langkah selanjutnya adalah komunikasi.

Sebagai contoh, ia menceritakan tentang ketegangan yang pernah terjadi antara Indonesia dengan Malaysia dalam hal perbatasan di Kalimantan.

"Saya tetap segaris dengan pemerintah, bahwa Malaysia harus membongkar fasilitasnya di perbatasan. Di sisi lain, sebagai panglima juga berdiplomasi dengan militer di sana," tambah dia.

Untuk menghindari konflik, kata dia, tentara tak bisa bergerak sendiri. Dan, memang harus ada keputusan politik dari negara, khususnya dalam berdiplomasi.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menyatakan masyarakat internasional perlu bersyukur pertemuan Trump-Kim berjalan positif dan memberi suatu harapan bagi perdamaian di semenanjung Korea.

"Hanya saja dunia tidak seharusnya larut dalam kegembiraan," kata Hikmahanto.

"Tentu masih banyak lagi isu-isu yang menjadi tantangan bagi tim teknis untuk dapat dirumuskan," tambah dia.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)