logo rilis
Pascaperlucutan Nuklir Korut, Trump Batal Temui Kim Jong-un
Kontributor
Syahrain F.
25 Mei 2018, 14:20 WIB
Pascaperlucutan Nuklir Korut, Trump Batal Temui Kim Jong-un
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato sebelum menyerahkan Medal of Honor di Gedung Putih, Washington, kemarin (24/5/2018). Credit: Anadolu Agency/Yasin Öztürk

RILIS.ID, Washington— Presiden Donald Trump secara resmi membatalkan pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un yang dijadwalkan berlangsung bulan depan.

Jika benar terealisasi, pertemuan itu sebenarnya dapat menjadi perkembangan bersejarah bagi dua negara yang saling bersitegang ini.

Melansir Anadolu Agency, dalam surat resmi yang ditujukan kepada Kim, presiden AS mengatakan keputusan ini dibuat berdasarkan "kemarahan besar dan kekasaran yang ditunjukkan secara terbuka dalam pernyataan terbuka Anda".

"Oleh sebab itu, silakan rujuk surat ini untuk menyatakan bahwa pertemuan Singapura, demi kebaikan kedua pihak, namun untuk kerugian seluruh dunia, tidak akan terjadi," imbuh dia, menurut surat yang dirilis Gedung Putih, kemarin (24/5/2018).

Trump dan Kim sebelumnya berencana untuk bertemu di Singapura pada 12 Juni yang diperkirakan akan menjadi momen bersejarah di mana presiden AS yang tengah menjabat bertemu dengan pemimpin Korea Utara.

Namun pada Rabu, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son-hui mengeluarkan ultimatum kepada AS untuk memilih apakah mereka menginginkan dialog atau perang, sembari menegaskan bahwa Washington adalah pihak yang menginginkan pertemuan pertama kali.

Choe memperingatkan, AS bisa "merasakan tragedi yang belum pernah mereka rasakan dan tidak akan pernah mereka bayangkan sampai sekarang," dan khususnya mengecam Wakil Presiden AS Mike Pence, yang disebutnya "politisi bodoh" karena membandingkan situasi Korea Utara dengan Libya sebelum penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011.

Korut sebelumnya meradang karena dibanding-bandingkan dengan "model Libya" dalam komentar yang dilontarkan beberapa pejabat tinggi AS, termasuk Penasihat Keamanan Nasional John Bolton, yang didukung oleh Trump.

Kamis lalu, Korut melakukan penghancuran satu-satunya situs nuklir mereka sebagai niat baik, hanya beberapa jam sebelum Trump mengumumkan pembatalan pertemuan di Singapura.

Menyusul pengumuman Trump, Kantor Berita Yonhap melaporkan bahwa Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengadakan rapat dengan pejabat-pejabat tingginya "untuk mencari tahu apa niat Presiden Trump dan arti sebenarnya", menurut juru bicara kepresidenan Korea Selatan.

Trump berkata kepada reporter di Gedung Putih bahwa dirinya telah berbincang dengan Korea Selatan dan Jepang, yang menurutnya "tidak hanya siap apabila Korea Utara melakukan upaya bodoh atau berbahaya, namun juga bersedia menanggung beban finansial dalam operasi apapun yang dilancarkan Amerika Serikat dalam operasi apapun, bila situasi tak menyenangkan itu terpaksa terjadi."

"Pasukan militer kami siap bila dibutuhkan," ujar Trump.

Dalam perkembangan pada Jumat pagi, Menteri Luar Negeri Korea Utara Kim Gye Gwan, melalui kantor berita pemerintah Korea Utara KCNA, menyatakan menyayangkan pembatalan pertemuan ini dan bahwa rezim tetap siap bertemu dengan Amerika Serikat "kapan saja".

"Keputusan Trump ini tak sejalan dengan keinginan dunia," kata Kim dalam artikel tersebut.

Dia juga menegaskan bahwa pertemuan tingkat tinggi dibutuhkan seiring dengan hubungan kedua negara yang semakin bersitegang.

"Pemimpin Kim Jong-un berusaha semaksimal mungkin untuk bertemu dengan Presiden Trump," ujar Kim.

Partai Republik
Dalam pengumumannya, Trump seakan membuka celah untuk dialog lain bila Kim bersedia.

"Jika Anda berubah pikiran tentang pertemuan yang sangat penting ini, tolong jangan ragu menelepon atau menulis kepada saya," tulis Trump. "Dunia, dan Korea Utara khususnya, kehilangan kesempatan besar untuk menuju perdamaian dan kemakmuran dan keuntungan besar."

Sesaat setelah pengumuman ini disampaikan Trump, sekutu-sekutunya dari Partai Republik di Capitol Hill mengeluarkan pujian atas keputusannya.

"Korea Utara memiliki sejarah panjang meminta kelonggaran, bukannya bernegosiasi," ujar Senator Tom Cotton melalui pernyataan. "Bila pemerintahan yang lalu selalu terkena tipu daya mereka, saya memuji presiden karena bisa melihat kepalsuan Kim Jong-un."

Sementara itu, Senator Marco Rubio mencuit di Twitter, "Membatalkan pertemuan dengan #NKorea adalah keputusan yang benar 100%. KJU tak ingin kesepakatan. Dia dengan sengaja menyabotase pertemuan selama dua minggu ini & seolah-olah kami yang salah."

PBB Prihatin
Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mengekspresikan keprihatinannya atas pembatalan pertemuan kedua negara, dan menekankan keduanya untuk meneruskan usaha berdialog.

"Saya sangat prihatin dengan pembatalan pertemuan yang direncanakan di Singapura antara Presiden Amerika Serikat dan pemimpin Republik Rakyat Demokratik Korea," kata Guterres dalam pidatonya di Geneva University, saat mempresentasikan agenda perlucutan senjata PBB.

"Saya mendorong kedua pihak untuk meneruskan dialog untuk menemukan jalan perdamaian dan denuklirisasi resmi Semenanjung Peninsula."

Guterres juga menyambut baik penutupan situs nuklir Korea Utara, Punggye-ri, meski mengatakan, "Sangat disayangkan ahli-ahli internasional tidak diundang untuk menyaksikan penutupan situs tersebut."


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)