logo rilis
Partai Jangan Cuma Cari Suara Anak Muda, tapi...
Kontributor
Fatah H Sidik
15 Januari 2018, 05:12 WIB
Partai Jangan Cuma Cari Suara Anak Muda, tapi...
Partai politik. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Komisaris Perkumpulan Warga Muda, Wildanshah, menilai, program partai terkait kepemudaan belum sesuai kebutuhan. Bahkan, partai juga dianggap tak total dalam memperjuangkan kepentingan anak muda.

"Partai politik hanya merayu anak muda untuk memilih kandidat mereka dengan berbagai cara. Namun, tidak pernah sekali pun ada partai politik yang mencoba merumuskan kebijakan dan hak anak muda dengan serius," ujarnya dalam siaran pers yang diterima rilis.id di Jakarta, Senin (15/1/2018).

Menurutnya, program partai cuma sekadar acara hura-hura untuk membangun kedekatan psikologis, bukan mendorong anak muda lebih politis dalam memperjuangkan hak-haknya. "Sampai saat ini, anak muda hanya jadi aksesoris politik oleh partai, yang sewaktu-waktu bisa dibuang ketika tidak diperlukan," imbuhnya. 

Mendekati bonus demografi, kata Wildan, sepantasnya partai lebih terbuka dan percaya kepada kekuatan anak muda. Agar optimal mendekat ke generasi muda, harus berani memperjuangkan kouta representasi politik pemuda di Parlemen.

Empat Alasan
Dia menambahkan, ada empat alasan penting partai patut memperjuangkan kuota anak muda di Parlemen. Pertama, urgensi mendongkrak partisipasi politik pemuda dalam momentum bonus demografi.

Kedua, keberadaan anak muda di Parlemen akan mempermudah proses identifikasi serta agregasi kepentingan-kepentingannya dan tak diperhatikan anggota dewan yang lebih tua. Ketiga, memastikan setiap kebijakan bersesuaian serta berbasis kebutuhan, karakteristik, dan pengalamannya. Terakhir, demi memberikan kontribusi besar pada arah regulasi dan perencanaan negara dalam menghadapi bonus demografi.

"Kalau ada yang bilang kuota dan kuantitas anak muda di Parlemen tidak penting, lihat penelitian dan sejarah parlemen di dunia, bahwa kuantitas jumlah wakil parlemen merupakan kekuatan politik yang paling signifikan. Bahkan, 20 atau 30 persen suara anggota sangat berdampak pada keberhasilan isu yang diperjuangkan itu," bebernya.

Selain kuota di Parlemen, menurutnya, partai harus memiliki platform politik dan kebijakan konkret membela kepentingan anak muda. Misalnya, rekrutmen khusus anak muda untuk menjabat di struktur partai tingkat cabang hingga level nasional dan mengusulkan revisi Undang-Undang Pemilihan Umum (UU Pemilu).

"Kalau mau konkret, partai politik harus rekrut anak muda jadi kader dan kasih jabatan strategis, bukan cuma jadi pengembira. Demi kepentingan masa depan, politisi senior harus berani dorong usulan revisi UU Pemilu untuk memasukan kouta anak muda di Parlemen, jangan cuma cari suara saat pemilu," tuntas Wildanshah.


#Partai Politik
#Anak Muda
#Pemilu
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)