logo rilis

Parpol Diminta Utamakan Adu Program dan Tinggalkan Kampanye Hitam
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
15 Oktober 2018, 17:30 WIB
Parpol Diminta Utamakan Adu Program dan Tinggalkan Kampanye Hitam
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman.

RILIS.ID, Jakarta— Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris, mengatakan, kampanye hitam dan kampanye negatif harus ditinggalkan oleh para kontestan Pilpres 2019.

Menurut dia, baik kampanye hitam maupun kampanye negataif sama-sama tidak mendidik masyarakat dalam konteks negara demokrasi.

"Kampanye hitam dan kampanye negatif itu tidak mendidik masyarakat, tidak mencerdaskan bangsa, hanya membodohi saja, kata Syamsuddin di Jakarta, Senin (15/10/2018).

Syamsuddin menjelaskan, konteks kampanye adalah mempromosikan program. Baginya, kampanye hitam cenderung menjurus kepada fitnah.

Sementara kampanye negatif cenderung mencari celah kesalahan atau kegagalan pihak lain. Karenanya, Syamsuddin menyebut dua model kampanye itu tidak mendidik.

"Sebaiknya partai politik tidak dalam posisi kampanye negatif atau kampanye hitam. Bagi saya iti membodohi masyarakat," ujarnya. 

Lebih lanjut, Syamsuddin mendorong agar seluruh partai politik untuk belomba-loma adu program dan gagasan di Pilpres nanti. Sebab, partai politik sejatinya bertugas mendidik dan mencerdaskan masyarakat.

"Bahwa masyarakat tidak memperhatikan itu (gagasan dan program), itu tugas partai. Partai bertugas mendidik masyarakat agar mau mendengar soal-soal yang subtantif," lanjut dia. 

Sebelumnya, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman mempersilahkan kadernya melakukan kampanye negatif, di samping memperbanyak kampanye positif.

Hal itu disampaikan Sohibul dalam sambutannya kepada para kader PKS saat Konsolidasi Nasional Pemenangan Pemilu 2019, di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat, Minggu, 14 Oktober kemarin.

"80 persen dalam kampanye kita harus positive campaign. Silakan untuk masuk ke negative campaign cukup 20 persen," tuturnya. 

Sohibul menjelaskan, kampanye negatif yang dimaksud adalah fakta-fakta soal kelemahan lawan.

"Negative campaign adalah kampanye yang kita angkat kelemahan lawan kita, tetapi ada faktanya. Enggak bohong itu namanya negative campaign, itu boleh, sebab publik harus tahu calon ini apa kelemahannya," terang dia.

Sementara untuk kampanye hitam atau black campaign, Sohibul menegaskan partainya tidak akan menolerir para kader yang melakukan praktik kampanye tersebut.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)