logo rilis

Parimou Butuh Transplanter 600 Unit
Kontributor
Elvi R
04 April 2018, 11:59 WIB
Parimou Butuh Transplanter 600 Unit
Lahan Sawah Parigi Moutong, Selasa (3/4/2018). 

RILIS.ID, Parigi Moutong— Upaya pemerintah melakukan mekanisasi pertanian di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) mulai direspons petani. "Awalnya mereka tak mau, tetapi setelah kita rangsang dengan bantuan mesin transplanter untuk tanam cara tapin, kini mereka yang minta karena terbukti membantu penanaman?," kata kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr di Parigi Moutong, Selasa (3/4/2018). 

Menurut Dedi, setiap kecamatan di Parimou merupakan sentra produksi beras di Propinsi Sulawesi Tengah.  Luas sawah baku Parimou mencapai 30 ribu, sehingga menjadi andalan penyumbang luas tambah tanam (LTT) padi pada program UPSUS kementan.

Semula, menurut Dedi, sebanyak 12 unit transplanter disebar ke setiap kecamatan masing-masing satu unit untuk percontohan. 

Hal tersebut untuk mengubah kebiasaan 80 persen pemilik sawah yang 80 persen mengandalkan cara hambur benih langsung (hambela) saat tanam. Petani menggunakan blower untuk menghamburkan benih sehingga kebutuhan benih membengkak mencapai 70-100 kilogram per hektare.  Sisanya 10 persen menggunakan cara tanam benih langsung (tabela) dengan seeder dan 10 persen dengan cara tanam pindah (tapin). 

"Mereka pilih cara hambur yang boros benih karena Sulawesi minim tenaga kerja," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Propinsi Sulteng, Ir Trie Iriany Lamakampali MM.  

Menurut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kab Parimo,  Nelson Metubun SP, cara hambur dinilai praktis dan mudah. 

Sebetulnya, menurut Mantri Tani Kecamatan Torue, I Wayan Muliarsa SP, cara tapin dapat meningkatkan produktivitas padi. Hasil uji coba di Desa Purwosari, Kec Torue telah membuktikan hasil panen cara tapin lebih tinggi dibandingkan hambela maupun tabela. 

Hal itu diamini petani dari Poktan Pantesari 2, Desa Tolai Barat, Kec Torue, I Made Suwasta, Nengah Latra,  dan Ketut Ardikayasa. Suwasta mengatakan hasil beras bersih cara tapin bisa mencapai 3 ton per hektare atau setara GKG 6 ton per hektare. Sementara hasil beras bersih cara hambela hanya 2.5 ton per hektare atau setara GKG 5 tonper hektare.

Terdapat tambahan hasil beras 500 kilogram per hektare sehingga petani dapat menikmati keuntungan sekitar Rp5 juta per hektare pada harga beras Rp10 ribu per kilogram dengan tambahan biaya produksi sekitar Rp1,3 juta per hektare.

Hasil gabah cara tapin juga lebih bernas,  sementara cara hambela gabahnya banyak hampa. Penyiangan juga lebih mudah di cara tapin. "Yang paling repot petani menyulam berkali-kali di cara hambela karena benih yang dihamburkan di permukaan tanah dimakan burung," kata Latra. 

Menurut Muliarsa, kini petani Parimo sudah menyadari manfaat cara tapin. Di Kec Torue dari 3.000 hekatre lahan sawah, petani sudah beralih ke cara tapin lebih dari 500 per hektare

Di Kecamatan Balinggi juga sudah banyak petani beralih ke cara tapin. "Lebih 500 hektare sawah di Balinggi menggunakan cara tapin," kata Mantri Tani Kec Balinggi, Supriadin SP. 

Menurut Nelson, petani siap meningkatkan produktivitas dengan tambahan transplanter untuk implementasi tapin. "Tanpa transplanter, cara tapin sulit berkembang karena tapin manual perlu tenaga kerja banyak," kata Nelson.  

Menurut Kepala Balai Besar Mekanisasi Pertanian, Ir Andi Nuralamsyah MSi, transplanter mampu tanam sekitar 5 jam dalam 1 per hektare. Dengan demikian untuk 3.000 per hektare lahan sawah Parimo yang tanamnya 3 gelombang perlu transplanter sekitar 500-1000 unit.

Sumber: Humas Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)