logo rilis

Para Kanwil dan Pengelola Rumah Ibadah Diminta Proaktif Jaga Suasan Tahun Politik
Kontributor

20 April 2018, 00:01 WIB
Para Kanwil dan Pengelola Rumah Ibadah Diminta Proaktif Jaga Suasan Tahun Politik
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, meminta para Kepala Kanwil Kemenag Provinsi di seluruh Indonesia untuk lebih proaktif dalam menjaga suasana agar tetap damai dan kondusif di tahun politik. 

"Setiap Kakanwil agar secara proaktif ikut mendorong ciptakan suasana damai dan rukun di tahun politik," tutur Menag dikutip dari laman www.kemenag.go.id, Jakarta, Jumat (20/4/2018).

Menurut Menag, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah mengajak para pengelola rumah ibadah untuk menghadirkan para penceramah agama yang tidak provokatif. Rumah ibadah harus senantiasa terpelihara kesuciannya dari ajang politik praktis pragmatis. 

"Di Indonesia, banyak tokoh agama yang memiliki wawasan keagamaan mendalam dan moderat.  Mereka perlu dihadirkan untuk memberikan pencerahan tentang moderasi agama," ujar Menag.

"Jangan kita melakukan tindakan atas nama agama yang justru membangun tembok-tembok tebal sehingga kita satu sama lain saling tersekat," sambungnya. 

Menyambut tahun politik di mana berbagai aspirasi kepentingan politik dikontestasikan di ruang publik sehingga berpotensi timbulkan gesekan, Menag mengatakan, nilai agama justru harus dijadikan sebagai acuan dan sekaligus orientasi bagaimana masyarakat tetap bersatu dalam keragaman, bukan justru dijadikan alat yang membuat kita tersekat-sekat.

"Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang tercerabut dari jati diri bangsa, sehingga kita terbelah satu dengan yang lainnya," harapnya.

Menag juga mengajak para Kakanwil untuk terus menyosialisasikan sembilan seruan tentang ceramah di rumah ibadah.

Seruan tentang ceramah agama di rumah ibadah, salah satunya tentang materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis serta tidak berisi penghinaan, penodaan, pelecehan terhadap pandangan dan keyakinan ibadah/antar umat beragama. Materi ceramah juga tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis dan destruktif.

"Tahun lalu saya sudah mengeluarkan sembilan seruan ceramah agama di rumah ibadah. Saya berharap seluruh Kepala Kanwil dan pengelola rumah ibadah juga bisa menyosialisasikan kembali seruan ini agar kerukunan dan kedamaian di Indonesia tetap terjaga dengan baik," beber Menag.

Sebelumnya,  Forum Silaturahmi Takmir Masjid (FSTM) seluruh Jakarta, menolak segala bentuk politisasi masjid. Penasihat FSTM se-Jakarta, KH Soleh Sofyan mengatakan, agenda politik kerap disisipkan pada acara keagamaan di masjid. Untuk itu Soleh menyerukan agar masjid dikembalikan sesuai dengan fungsinya, sebagai tempat ibadah dan menyampaikan pesan suci agama.

"Masjid seharusnya menjadi sarana untuk mempersatukan umat, bukan dijadikan tempat untuk memecah belah dan memperuncing perbedaan," tegas Soleh sebagaimana dikutip siaran pers FSTM.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)