logo rilis
Para Istri Terdakwa Korupsi e-KTP Dipanggil KPK
Kontributor
Tari Oktaviani
27 Maret 2018, 14:18 WIB
Para Istri Terdakwa Korupsi e-KTP Dipanggil KPK
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Para istri terdakwa korupsi kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP) dipanggil serempak oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka ialah istri Setya Novanto, Deisti Astriani Tagor dan istri Andi Narogong, Inayah.

Mulanya Deisti yang lebih dulu datang ke gedung KPK. Sekitar pukul 09:55 WIB, dia datang dan langsung memasuki ruang pemeriksaan. Selain itu selang beberapa menit, sang suami Setya Novanto datang menyusul Deisti ke dalam.

Pada pukul 10:16 WIB, Inayah juga datang. Tanpa berkomentar sedikit pun, dia langsung masuk ke dalam gedung KPK. Menurut Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, ketiganya diperiksa untuk Irvanto dan Made Oka Masagung.

Diketahui Made Oka ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan Keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi (IHB) pada Selasa (28/2/2018).

Iravanto dan Made diduga bersama-sama dengan terdakwa kasus korupsi e-KTP lainnya seperti Setya Novanto, Anang Sugiana Sudihardjo selaku Direktur Utama PT Quadra Solution, Andi Agustinus alias Andi Narogong, kemudian Irman dan Sugiharto dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi. Perbuatan keduanya pun mengalahgunakan wewenang, sehingga diduga mengakibatakn kerugian negara Rp2,3 dari nilai proyek Rp5,9 triliun.

Made Oka selaku pemilik PT Delta Energy diduga menjadi perusahaan penampung dana rasuah e-KTP. Sehingga total dia menerima US$3,8 juta sebagai peruntukan pada Setya Novanto, terdiri melalui minvestmen menerima US$1,8 juta melalui Biomorf Mauritius, dua melalui Rekening PT Delta energy sebesar US$2 juta.

Dia juga diduga sebagai perantara fee untuk anggota DPR sebesar lima persen dari nilai proyek tersebut.

Atas perbuatannya itu, Irvanto dan Made disangkakan melanggar Pasal 2 (ayat) 1 subsider pasal 3 UU tindak pidana korupsj jo pasal 55 (ayat) 1 ke 1 KUHP.

Editor: Elvi R


komentar (0)