logo rilis

Panjang Umur dan Jalan Kebahagiaan
Kontributor
RILIS.ID
05 Juni 2018, 19:11 WIB
Panjang Umur dan Jalan Kebahagiaan

Oleh Bhirau Wilaksono
Penggemar edgar allan poe, dan science enthusiast

DALAM rentang peradaban manusia, panjang umur adalah cita-cita, bertahan hidup adalah harapan, segenap potensi dirinya ia curahkan untuk tetap survive. Dalam Sapiens, Harari menyederhanakan; sisa terakhir homo soloensis berasal dari sekitar 50,000 tahun silam. Homo denisova lenyap tak lama sesudahnya. Neanderthal lenyap 30.000 tahun lalu, dan terakhir, manusia katai musnah dari Flores 12.000 tahun silam. Semuanya terjadi sejak spesies terbaik manusia, sapiens tiba di lokasi baru tersebut. Darwin Menyebut yang kuatlah yang bertahan hidup. Harari melengkapi, salah satu senjata terkuat adalah bahasanya.

Selain karena seteru antar sesama spesies, manusia juga menghabiskan banyak energinya dalam seteru melawan penyakit, hal yang berdampak negatif bagi keberlangsungan hidupnya. bahkan yang lebih jauh, melawan penuaan, yang dianggap sebagian orang sebagai momok bagi keberlangsungan hidup.

Dalam diri setiap manusia ada 3 jenis umur, pertama umur kronologis yakni angka yang tercatat sejak kita lahir hingga saat sekarang ini. Kedua, umur mental yakni perkembangan psikis, ada manusia yang telah dewasa tetapi mentalnya kadang masih kanak-kanak, demikian juga sebaliknya. Dan yang ketiga adalah umur biologis, sederhananya kita bisa pahami sebagai usia tubuh dalam arti yang sesungguhnya. Bisa jadi, seseorang dengan umur kronologis 40 tahun tapi justru memiliki umur biologis yang jauh melampaui itu. akibatnya, ia memiliki kualitas hidup yang tak baik. fisik yang lemah, didera penyakit berbagai penyakit penyerta penuaan dan lain-lain. Juga sebaliknya ada pula seseorang dengan umur kronologis 70 tahun tetapi memiliki umur biologis yang jauh lebih muda yang membuat fisiknya tetap fit, jauh dari penyakit-penyakit. hal ini tentu membuat kualitas hidupnya menjadi lebih baik. Ia bisa menikmati masa tuanya dengan lebih produktif, atau minimal tidak menjadi beban bagi orang lain.

Lebih dari 200 tahun yang lalu sekitar 40% anak yang lahir di hampir semua Negara bahkan berumur tak lebih dari 1 tahun karena berbagai wabah. Perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang kedokteran mengambil peran penting pada usaha manusia untuk survive. Perkembangannya, juga berkorelasi dengan makin meningkatnya angka harapan hidup manusia, tidak hanya sekedar angka, tapi juga kualitas hidupnya. Bahkan, dekade ini terdapat percabangan yang berkembang khusus dalam usaha manusia untuk melawan penuaan dan penyakit penyertanya. Dalam hal ini fokusnya adalah umur biologis.

Aubrey de Grey dan tim peneliti gerontorologi sens di Universitas Cambridge dalam ‘ending aging’ begitu optimis bahwa jika kebanyakan penyakit bisa dicegah dengan sanitasi yang baik, vaksin, control carrier dll, kenapa kita tidak bisa mencegah penuaan dan penyakit penyertanya.

Dr. simon melov bersama timnya Buck Institute for research on aging bahkan telah menerima restu dari FDA untuk uji klinis penggunaan Metformin sebagai obat anti tua yang ia klaim bisa meningkatkan angka harapan hidup hingga 120 tahun.

Dari sekian banyak usaha manusia melawan penuaan, baik meremajakan (rejuvenasi) sel yang soak atau mencegah yang muda untuk menua lebih cepat ada yang bisa kita lakukan dengan cukup mudah selain dengn berolahraga, dan konsumsi makanan sehat.

Dalam studinya, Dr. owen wokowitz bersama timnya di universitas California menjelaskan bahwa panjang pendeknya telomer (marker cellular aging) sangat dipengaruhi oleh stres. Lebih lanjut dalam jurnal PloS ONE tahun 2012 mengungkap bahwa individu yang memiliki kecendrungan stres tinggi baik dalam pekerjaan maupun kehidupannya sehari-hari memiliki telomer yang lebih pendek, yang memungkinkannya lebih dekat dengan alzeimer, DM Type-2, penyakit jantung dan cancer.

Jika merejuvenasi sel (yang biayanya tak murah) adalah upaya untuk kembali meremajakan sel, maka mengendalikan pikiran jauh dari stress adalah upaya paling murah yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya menua dengan cepat.

Memilih Jalan Kebahagiaan

Bahagia itu sederhana, tapi kadangkala kebahagiaan yang kita yakini justru telah memicu sebuah bangun spiral ketidakbahagiaan. Dalam berbagai tafsir kebahagiaan, barangkali kita bisa menghadapkan wajah ke Den Haag, di sana kita bisa menemui seorang pria berusia 76 tahun, namanya Ruut Veenhoven tapi orang-orang menyebutnya Bapak Kebahagiaan, sebab, sebagai Sosiolog sejak 1984 ia  dengan total telah menceburkan dirinya dalam riset kebahagiaan dan merangkumnya dalam World Database of Happiness.

Dalam sebuah kesempatan, seorang contributor NPR, Eric Weiner berusaha mencari tahu bagaimana sesungguhnya kebahagiaan itu bekerja, berbekal data yang ia peroleh WDH Ia mengelilingi berbagai Negara, dari Moldova yang paling tidak bahagia sampai Negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi seperti Swiss dan Islandia.

Dalam risetnya tersebut Jika saya boleh menyederhanakan. kesimpulannya akan menjadi seperti ini; ‘tak semua orang bisa memehuhi unsur-unsur pembentuk kebahagiaan, semisal keluarga, pasangan, teman-teman, uang dll. Tapi semua orang bisa melakukan satu hal, yakni menjauhi musuh besar kebahagiaan, yakni rasa iri’.

Dari beberapa Negara tempat kebahagian itu bekerja, ada dua hal penting yang bisa kita jadikan pelajaran. Pertama, mencegah rasa iri dengan tidak membuat orang lain iri.

Hal inilah yang membuat Swiss menjadi Negara dengan indeks kebahagiaan yang tinggi. Warga Negara Swiss adalah warga yang paling anti untuk memamerkan apa yang mereka miliki kepada orang lain, mereka adalah orang yang lebih menyenangi membicarakan panu di (maaf) pantat daripada membicarakan berapa jumlah gaji yang mereka terima dalam sebulan. Mereka lebih memilih untuk memamerkan kutil ditangannya dibanding harus memamerkan Bugatti atau supercar lain yang baru mereka beli. mereka secara kultur adalah orang-orang sangat gemar menyembunyikan hal yang bisa membuat orang lain merasa iri.

Di Indonesia, perilaku ini tentu agak sulit untuk kita temui. Sebab, yang kita maksud dengan bahagia itu sederhana adalah bisa memposting caption berikut fotonya semisal menu santap malam restoran mahal dengan segala tetek bengeknya. Memosting barang-barang belanjaan barunya atau hal-hal lain yang bisa membuat orang lain iri meski tanpa niatan pamer. Entah, jika sering-sering memposting foto bersama pasangan apakah juga akan membuat manusia dengan status jomblo yang melihatnya akan menjadi iri atau tidak, barangkali hanya mereka yang bisa menjawab.

Konsep ‘membuat orang lain tidak iri’ inilah yang juga turut mengilhami aturan pajak progresif Negara-negara eropa, sesuatu yang bisa membuat warga miskin senyum dan berkata syukurlah aku tak memiliki sesuatu yang bisa mereka (Negara) pajaki.

Pelajaran kedua, mencegah rasa iri dengan berbagi. Inilah pegangan hidup masyarakat Islandia, yang membuat seluruh warga negaranya menjadi seperti saudara, saling berbagi. Mereka lebih senang harga bahan bakar melonjak dibanding ada penduduk negara tersebut yang tak bekerja. Jika bahan bakar naik, mereka bisa merasakannya bersama, tapi jika ada sebagian yang tak bisa bekerja, mereka semua akan bersedih. Susah senang mereka harus menikmatinya bersama-sama. 

Di Indonesia, konsepsi dasar Bhinneka tunggal ika tentu memiliki makna yang sama, sayangnya, secara praksis torang samua basudara hanya berlaku dalam golongan. Diluar itu mari kita urus diri masing-masing. Jalan kebahagian sesungguhnya adalah jalan yang mudah, bahagia memang sederhana jika kita tahu bagaimana kebahagiaan itu bekerja. Dan, bagaimanapun cara kita medapatkannya, ia bisa menyebar, tentu dengan cara kita masing-masing. Membuat orang lain tidak iri, atau dengan lebih banyak berbagi.

Harapan kita semua sama, angka harapan hidup yang meningkat seiring dengan kualitasnya. kita semua bisa memulainya dengan jalan ini. jadi, mari berbahagia dengan sebenarnya, seperti itulah Homo Sapiens (bijak) bekerja.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)