logo rilis

Panen Raya Largo Super di Bawah Tegakan Pohon Kelapa
Kontributor
Elvi R
01 Maret 2019, 16:01 WIB
Panen Raya Largo Super di Bawah Tegakan Pohon Kelapa
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) melaksanakan panen raya padi dengan teknologi Larikan Gogo (Largo) Super di Desa Purwosedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (28/2). 

Acara panen tersebut dihadiri oleh Kepala Puslitbangtan, Kepala BPTP Jawa Barat, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi, Danramil 2214/Surade, Kapolsek Cilacap, Peneliti BBPADI, Peneliti BBSDLP, Peneliti BB Pascapanen, Peneliti BB Biogen, Camat Ciracap, Kades Purwosedar, Ka. UPTD Jampang Kulon, Ka. BPP beserta penyuluhnya dan petani yang berjumlah 250 orang.

Dr.  Agus W.  Anggara sebagai Pj. Kegiatan Largo Super dari Puslitbangtan menyampaikan, Demarea Largo di Purwasedar Sukabumi merupakan satu dari tiga lokasi serupa yang pada 2018-2019 ini didampingi langsung oleh Badan Litbang Pertanian dalam penerapan paket teknologi budidaya largo super.  Kegiatan Largo Super di Purwasedar Sukabumi dilaksanakan di bawah tegakan pohon kelapa dengan sistem tanam jajar legowo 2:1. Adapun varietas yang digunakan adalah Rindang 1, Rindang 2, Inpago 8, Inpago 10,  Inpago 12, dan vub amphibi Inpari 42 GSR.  Varietas lainnya Inpago unsoed sebagai pembanding. 

Selama ini petani padi ladang di kawasan Kecamatan Ciracap, tanam padi di bawah tegakan pohon kelapa. Adapun varietas yang digunakan adalah varietas lokal atau padi sawah yang di tanam sebagai padi gogo dengan rata-rata produktivitasnya antara 2-3 ton per hektar.
 
Masih dalam laporannya Dr. Agus W. Anggara menyampaikan hasil ubinan dalam gabah kering panen (GKP) yang dilakukan bersama PPL dan BPS Sukabumi yaitu “Inpago 8 5,240 ton per hektare Inpari 42 5,208 ton per hektare, Rindang 2 (5,120 ton per hektare, Inpago 12 4,520 ton per hektare, Inpago 10 3,896 ton per hektare dan Rindang 1 3,784 ton per hektare dan Inpago Unsoed 3,552 ton per hektare, sehingga produktivitasnya meningkat antara 10-60 persen dari kondisi semula, terang Agus.
  
Hadir mewakili Kapuslitbangtan adalah Prof. Dr. Hasil Sembiring yang dalam sambutannya menyampaikan bagaimana teknologi ini dapat meningkatkan pendapatan petani.

“Meningkatkan pendapatan petani solusinya adalah menerapkan teknologi, dengan rata rata kenaikan 2 ton per hektar saja dari luas demarea 100 hektare apabila dirupiahkan Rp5 ribu per kilogram hasilnya meningkat Rp1 milyar hanya dilokasi ini saja," ungkapnya.

Hasil melanjutkan bahwa teknologi Largo Super ini dapat diadaptasikan juga dengan tanaman perkebunan.

“Dilokasi ini teknologi Largo Super juga membuktikan bahwa tanaman perkebunan dapat diintegrasikan dengan tanaman pangan, selain meningkatkan pendapatan petani padi, tanaman perkebunan juga dapat meningkat hasilnya,” ujar hasil Sembiring.

Masih ditempat yang sama Kepala Dinas Pertanian kabupaten Sukabumi Ir. H. Sudrajat menjelaskan  bahwa total lahan kering di Kabupaten Sukabumi luasnya 125 ribu ha, dan yang bisa ditanami tanaman pangan dan rata-rata per tahunnya hanya 24-26 ribu yang biasa ditanami padi gogo. Sudarajat menyambut gembira penerapan teknologi Largo Super ini di wilayahnya, dan berharap para petani dapat segera menerapkan teknologi ini.

“Ini peluang untuk meningkatkan produksi yang biasanya hanya 2-3 ton per hektare, dengan adanya Largo Super ini produktivitasnya ada yang 5 ton perhektare. Peluang luar biasa ini tinggal menggerakan semua sektor dan semua petani padi untuk memanfaatkan teknologi ini,” pungkas Sudrajat.

Sumber: AWA/RPTH/Uje/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID