logo rilis
Panen Pedet di Magetan, Mentan: Protein Hewani Harus Kita Tingkatkan
Kontributor
Sukma Alam
07 Mei 2018, 22:20 WIB
Panen Pedet di Magetan, Mentan: Protein Hewani Harus Kita Tingkatkan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. FOTO: Dok. Kementan

RILIS.ID, Magetan— Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, konsumsi protein hewan harus ditingkatkan untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang sehat dan cerdas. Hal tersebut disampaikan pada acara Panen Pedet dan Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Senin (07/05/2018).

“Saya ingin Indonesia sejajar dengan negara maju lainnya, untuk itu saya meyakini bahwa dengan majunya pengembangan komoditas peternakan ke depan, dapat saya pastikan sumber daya generasi kita mendatang akan menjadi lebih baik, terutama dengan adanya ketersediaan dan banyaknya pilihan protein hewani bagi masyarakat,” ucap Amran.

Ia mengungkapkan, kebutuhan protein hewani tidak hanya dari daging Sapi saja, akan tetapi bisa dari daging ayam, telur, daging kelinci, kambing dan domba, serta hasil ternak lainnya. Menurutnya, target swasembada protein sebenarnya sudah tercapai karena Indonesia sudah mengekspor hasil peternakan. Indonesia sudah mampu mengekspor sejumlah produk peternakan bernilai strategis ke beberapa negara, seperti olahan daging ayam, pakan ternak, telur tetas ayam serta produk pangan hewani lainnya. Sejauh ini, keseluruhan peternakan Indonesia sudah mampu menembus lebih dari 110 negara.

“Tiga hari lalu, kita ekspor perdana DOC (Day Old Chicken) ke Timor Leste, setelah sebelumnya kita ekspor daging ayam olahan ke Jepang sebanyak 12,5 ton, Papua Nugini 24 ton dan Timor Leste 6,6 ton," tutur Amran .

Amran menyebutkan, sejak tahun 2015 Indonesia juga telah melakukan ekspor telur tetas ayam dengan jenis ayam ras ke Myanmar, dan hingga Maret 2018 jumlah komulatif yang sudah diekspor sebanyak 10.482.792  butir dengan nilai Rp109,60 milyar dan beberapa pekan lalu Indonesia mulai ekspor perdana telur tetas ayam persilangan ke Myanmar.

Berdasarkan data BPS, capaian ekspor sub sektor peternakan di Indonesia sangat fantastis, ekspor daging ayam tahun 2017 sebesar 325 ton (meningkat 1800 persen dibandingkan tahun 2016), sedangkan ekspor  telur unggas sebanyak 386 ton (meningkat 27,39 persen dibanding tahun 2016).  “Dan yang tidak kalah menarik lagi pada bulan April lalu kita sudah menginisiasi ekspor bibit kelinci ke Malaysia,” ungkap Mentan Amran.

“Intinya kita ini kaya akan sumber protein hewani,” tandasnya.

Terkait dengan produksi daging sapi, Menteri Amran memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Magetan dan Pemprov Jawa Timur yang selama ini memiliki komitmen tinggi untuk meningkatkan populasi sapi potong di tingkat peternak melalui Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting).

“Kita lihat dengan adanya kelahiran pedet-pedet yang ditampilkan pada acara Panen Pedet ini adalah bukti nyata keberhasilan Upsus Siwab,” kata Mentan Amran sambil menunjukkan pedet-pedet hasil IB sebanyak 1.200 ekor yang ditampilkan oleh para peternak Kabupaten Magetan.

“Ini merupakan jaminan yang menunjukan bahwa Indonesia mampu secara terus menerus berkelanjutan menghasilkan ternak sapi,” ujarnya.

Karena itu, ia optimistis cita-cita Indonesia menjadi lumbung pangan Dunia akan dapat terwujud, jika pencapaiannya seperti Provinsi Jawa Timur khususnya Kabupaten Magetan yang merupakan salah satu gudang ternak di tanah air.

Capaian Upsus Siwab di Kabupaten Magetan cukup menggembirakan, data komulatif dari bulan Januari 2018 sampai dengan tanggal 3 Mei 2018 untuk Pelayanan Inseminasi Buatan (IB) terealisasi sebanyak 11.000 ekor, Pemeriksaan Kebuntingan (PKB) 6.000 ekor dan kelahiran ternak 4.000 ekor. Secara nasional program Upsus Siwab realisasinya juga sangat mengembirakan. Untuk Pelayanan Inseminasi Buatan (IB) dari bulan Januari 2017 sampai dengan Mei 2018 telah terealisasi sebanyak 5.522.936 ekor, Kebuntingan 2.461.009 ekor, dengan kelahiran sebanyak 1.195.490 ekor atau setara dengan Rp8,3 triliun (harga pedet lepas sapi per ekor Rp7 juta).

“Dengan investasi Upsus Siwab pada Tahun 2017 sebesar Rp1,1 triliun  dapat diartikan bahwa setiap fasilitasi APBN sebesar 1 rupiah  mampu mentriger kinerja pembangunan peternakan sebesar 7 rupiah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan, sejak pemerintahan Jokowi-JK, Pemerintah mengratiskan semen beku kepada lima juta sapi. “Jika nanti pedet-pedet itu besar, beratnya dapat mencapai satu ton lebih dengan harga rata-rata 50 juta rupiah. Modalnya hanya sperma sapi harganya 50 ribu, tapi kalau sudah lahir harganya bisa 10-15 juta. Ini baru namanya beternak dengan cerdas sesuai harapan peternak,” tuturnya.

Saat ini, Kementan juga telah membuat gebrakan baru guna mengentaskan kemiskinan di desa melalui Program Bekerja atau Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera. Untuk sub sektor peternakan, akan difasilitasi melalui kegiatan bantuan pemerintah berupa ayam sebanyak 10 juta ekor, serta hewan ternak lainnya seperti kelinci dan kambing serta domba.

Pada kesempatan tersebut, ia juga memberikan bantuan ternak kelinci sebanyak 500 ekor kepada 25 petani miskin dengan masing-masing rumah tangga memperoleh 20 ekor kelinci. “Beternak kelinci ini peluang usahanya besar dan potensinya luar biasa untuk dikembangkan karena semakin banyaknya permintaan,” katanya saat berkunjung ke lokasi Bedah Kemiskinan di Desa Tanjungsari Kecamatan Panekan.

“Masyarakat saat ini sudah mulai pintar memilih daging untuk dikonsumsi, misalnya daging kelinci ini meski serat dan proteinnya tinggi, tapi rendah kalori, lemak dan kolesterol bila dibandingkan dengan daging ayam, sapi, kambing atau domba dan babi, ini potensi yang luar biasa. Magetan ini dulunya adalah lumbung ternak kelinci, dengan program Bekerja ini kita ingin balikkan lagi Magetan menjadi Lumbung Ternak Kelinci seperti dulu lagi,” pungkasnya.


500
komentar (0)