logo rilis

Pancasila Sudah Final, Jangan Diobok-Obok Lagi
Kontributor
RILIS.ID
07 Maret 2019, 14:33 WIB
Pancasila Sudah Final, Jangan Diobok-Obok Lagi
Diskusi publik Milad Kaukus Muda Indonesia (KMI) ke-10 di Hotel Sentral jalan Pramuka, Jakarta, Rabu (6/3/2019). FOTO: ISTIMEWA

RILIS.ID, Jakarta— Hoaks yang merajalela menjelang pilpres 17 April mendatang merupakan penyakit modern yang bisa membunuh karakter manusia. Begitupula dengan radikalisme, intoleransi, dan SARA.

Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber pada diskusi publik Milad Kaukus Muda Indonesia (KMI) ke-10 di Hotel Sentral jalan Pramuka, Jakarta, Rabu (6/3/2019).

Menurut Jerry, kata hoaks dalam bahasa aslinya adalah hocus yang berarti mengelabui.

Jerry mencontohkan dalam 1 menit ada 3,3 juta pesan yang dikirim melalui Facebook dan 43 juta via WhatsApp (WA). Itu semua berpotensi hoaks cukup banyak.

Bukan hanya itu. Konten hoaks di Indonesia mencapai 800 ribu. Selama 2019 ini saja sudah ada 62 ribu konten hoaks yang terindentifikasi.

"Direktorat cyber crime Mabes Polri sepanjang 2017 menetapkan 10 tersangka dari 28 kasus hoaks, 37 tersangka dari 171 kasus hate speech, dan 4 tersangka dari 34 kasus paham radikal," jelas Jerry.

Selain hoaks, ujarnya, intoleran juga berpotensi merusak demokrasi. Data Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah 2018, sebanyak 63,07 persen guru memiliki opini intoleran pada pemeluk agama lain. Sedangkan guru yang mempunyai opini toleransi mencapai 36,92 persen.

Jerry memaparkan masalah radikalisme ada yang positif adapula yang negatif. Charles James Fox orang pertama yang mempopulerkan radikalisme pada 1797, menyerukan “Reformasi Radikal” dalam sistem pemerintahan di Britania Raya (Inggris).

Reformasi tersebut dipakai untuk menjelaskan  pergerakan yang mendukung revolusi parlemen di sana. Pada akhirnya ideologi radikalisme mulai berkembang dan kemudian berbaur dengan ideologi liberalisme.

Setara Institute menyebut sebagian besar pelajar SMA (75,3 persen) mengaku pernah mendengar gerakan ISIS (negara Islam Irak dan Syam). Sementara, 14,2 persen tidak pernah mendengar dan 10,5 persen tidak tahu tentang ISIS.

Survei dipublikasikan tahun 2015 dengan sasaran sejumlah 38 SMA di Bandung dan 76 di Jakarta dari total 171 SMA. Survei dilakukan pada 9-19 Maret 2015 dengan metode interviewer spot check.

Sebagai quality control dilakukan wawancara terhadap 20 persen dari sampel dengan sistem simple random sampling.

Masing-masing sekolah diambil enam siswa sebagai responden dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin error sebesar 4,7 persen.

Survei yang dilakukan global The Pew Research Center pada 2015, dari penduduk mencapai 255 juta orang, warga yang bersimpati pada ISIS tak kurang dari 10 juta orang.

"Jadi jika ada paham  radikal yang ingin mengganti Pancasila sebagai dasar negara harus kita lawan. Hal ini sudah final pada 1 Maret 1945 saat sidang BPUPKI. Pidato Presiden Soekarno 1 Juni dan pada 22 Juni 1945 menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara lewat piagam Jakarta," terangnya. (*)

 

 

Editor: gueade




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID