logo rilis

Pancasila Adicita Dunia
kontributor kontributor
Rencana Muhammad
16 Juni 2017, 20:10 WIB
Pendiri Khatulistiwamuda, Direktur Eksekutif Yayasan Pendidikan Islam Terpadu al-Amin.
Pancasila Adicita Dunia

Negara besar di wilayah Balkan ini adalah yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia di Benua Eropa. Surat pengakuan itu dikirim langsung Perdana Menteri Edvard Kardelj pada 1 Februari 1950. Enam tahun berselang, Presiden Soekarno memenuhi undangan kehormatan Josip Broz Tito, mengunjungi negaranya. Dua pejuang besar antipenjajahan Barat pun bersua. Bersahabat erat membangun dunia tanpa blokade. Terbukti dari enam kali kunjungan Bung Karno ke sana sejak 1956, 1958, 1960, 1961, 1963, sampai 1964.

Di antara kunjungan kenegaraan tersebut, terjadilah sebuah dialog legendaris yang kelak direkam dengan baik oleh sejarawan Serbia hingga hari ini. “My Dear Friend Tito, jika Anda meninggal nanti, bagaimana nasib bangsa Anda?” tanya Bung Karno. Tito pun menjawab bangga, “Aku memiliki tentara pemberani dan tangguh untuk melindungi bangsa kami.” Setelah menjawab, Tito balas bertanya pada Bung Karno, “Lalu bagaimana dengan negara Anda sahabatku, Dear Friend Karno?”

Baca Juga

Bung Karno menjawab pertanyaan Tito dengan tenang, “Aku tidak khawatir, karena telah kuwariskan Pancasila sebagai jalan hidup bangsa Indonesia.” Secara logis, mestinya lebih mudah mempertahankan keutuhan Yugoslavia yang masyarakatnya cenderung satu etnis, tinimbang Indonesia yang pusparagam. Namun, kenyataan berwujud sebaliknya. Yugo bubar jalan pada 1990. Lalu berdirilah Serbia (serta dua daerah otonomnya: Kosovo dan Vojvodina), Montenegro, Kroasia, Slovenia, Bosnia-Herzegovina, dan Republik Makedonia. Sementara Indonesia, masih jaya hingga hari ini. Apa rahasianya?

Pada 30 September 1960, bersamaan dengan Sidang Umum PBB ke-15, Presiden Soekarno menyampaikan pidatonya yang masyhur berjudul “To Build the World Anew” (Membangun Tatanan Dunia Baru). Dengan kepercayaan dirinya yang luar biasa itu, Bung Karno mengajak masyarakat dunia menggunakan Pancasila sebagai adicita negara-bangsa mereka. Sangat masuk akal memang. Sebab sampai hari ini, belum ada satu pun negara yang memiliki landasan pijak sekuat Indonesia.

Kitalah satu-satunya bangsa yang tetap menjaga keharmonisan langit-bumi dengan Ketuhanan Hyang Maha Esa (Tauhid [Hablumminallah]); Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS Al-Ikhlâsh [112]: 1)

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Hablumminannas); Wahai orang-orang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah (QS An-Nisâ’ [4]: 135).

Persatuan Indonesia (Hubbul Wathan); Dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (QS Al-Hujurât [49]: 13).

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan (Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah); Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka (QS Asy-Syu‘arâ’ [26]: 38).

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing); Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (QS An-Nahl [16]: 90).

Merdeka!


#Pancasila
#Adicita Dunia
#Saujana
#Kolom
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID